Sanaa,LiputanIslam.com-Kendati perundingan antara Ansharullah dan RIyadh telah dilakukan pada bulan Ramadan lalu, Saudi disebut Yaman mengulur-ulur waktu dan tidak menanggapi penyelesaian urusan kemanusiaan.
“Perundingan saat ini dengan Saudi, yang dimediasi oleh Oman, adalah upaya untuk mewujudkan perdamaian. Sanaa telah bereaksi positif kepada masalah ini. Namun Riyadh harus tahu bahwa ia tidak bisa menggabungkan serangan ke sebuah negara dengan proyek pengembangan ekonomi di satu tempat sekaligus,” kata Staf Urusan Pertahanan PM Yaman, Jalal al-Ruwaishan kepada al-Masirah.
“Sejak awal-awal dimulainya gencatan senjata, Angkatan Bersenjata Yaman telah memulai pemulihan kekuatannya. Setelah gencatan senjata berakhir, kami kembali ke situasi perang. Sanaa punya kemampuan secara militer untuk mengawasi pelabuhan-pelabuhan Saudi dan aliran investasi ke arahnya. Angkatan Bersenjata Yaman sebelum ini telah melancarkan operasi-operasi dalam hal ini,” lanjutnya.
Di akhir wawancara, al-Ruwaishan menyatakan bahwa pidato-pidato internasional mengklaim dukungan kepada keutuhan wilayah dan kemerdekaan Yaman. Namun praktik di luar menunjukkan hal selain itu. Menurutnya, proyek separatisasi menunjukkan bahwa negara-negara agresor berusaha memperumit kancah di Yaman agar mereka bisa mendapatkan keunggulan dalam perundingan. (af/fars)