Ratusan Dokter Desak Inggris Hentikan Penyiksaan Terhadap Pendiri Wikileaks

0
112

Julian Assange meninggalkan Pengadilan Westminster di London, Inggris, 13 Januari 2020. © REUTERS/Henry Nicholls

London, LiputanIslam.com—Lebih dari 100 dokter dari berbagai negara mendesak pemerintah Inggris agar menghentikan “penyiksaan psikologis” terhadap pendiri Wikileaks, Julian Assange, serta segera mengirimnya ke rumah sakit.

Menurut 117 dokter dari 18 negara yang  bergabung di bawah nama Doctors for Assange, Assange kemungkinan akan mati di penjara Inggris karena “disiksa” dengan sangat ekstrem.

Desakan kepada pemerintah Inggris ini disampaikan lewat surat yang dirilis oleh jurnal medis terkemuka, The Lancet.  Ini merupakan surat keempat mereka sejak Assange muncul di pengadilan.

Surat itu lebih lanjut menuturkan bahwa Assange membutuhkan perawatan medis yang mendesak karena telah terkena “penyiksaan psikologis yang berkepanjangan”. Doctors for Assange pun meminta agar ia dipindahkan ke rumah sakit pendidikan universitas untuk dirawat.

Kesehatan Assange memang telah menjadi kekhawatiran para pendukungnya selama ia ditahan.

Pelapor Khusus PBB, Nils Melzer yang mengunjungi Assange di penjara pada Mei 2019,  melaporkan bahwa sang jurnalis terlihat memperlihatkan “semua gejala khas dari paparan penyiksaan psikologis yang lama.” Pada saat itu, Assange telah menghabiskan tujuh tahun penahanan di kedutaan Ekuador di London sebelum ia dikirim ke penjara Belmarsh.

Tak lama setelah kunjungan itu, Assange muncul pada persidangan audiensi kasusnya pada 21 Oktober 2019.  Doctors for Assange menyebut ia tampak “pucat, kurus, tua, dan pincang, dan tampak kesulitan untuk mengingat informasi dasar, kesulitan fokus pada pikirannya, atau mengartikulasikan kata-katanya”. Pada akhir persidangan, Assange bahkan mengatakan kepada hakim bahwa “dia tidak mengerti apa yang terjadi di pengadilan”.

Sidang tersebut diadakan untuk memutuskan tindakan ekstradisi Assange ke AS. Pendiri WikiLeaks itu memang diincar oleh Washington karena “memperoleh dan membocorkan dokumen rahasia yang terkait dengan pertahanan nasional secara ilegal”. Departemen Kehakiman mendakwanya dengan 18 tuduhan dan hukuman maksimal 175 tahun penjara. (ra/presstv)

 

DISKUSI: