Teheran,LiputanIslam.com-Di hadapan para mahasiswa Universitas Elm va Sanaat, Komandan Pasukan Dirgantara IRGC, Amir Ali Hajizadeh menyatakan bahwa AS telah mengubah strateginya dari perang keras ke perang lunak.
“Pada awalnya, AS menggunakan metode keras dan perang. Namun hari ini, karena AS tidak punya kemampuan untuk menghadapi Iran melalui perang dan konfrontasi militer, mereka beralih ke perang lunak di sektor ekonomi, sosial, budaya, dan media,”kata Hajizadeh.
“Dalam beberapa periode, mereka telah memasang sejumlah perangkap untuk Iran. Di antaranya adalah saat perang Irak dan Kuwait, ketika mereka mengundang banyak negara untuk menghadapi Saddam. Sebagian pihak di Iran mengatakan bahwa andai Imam Khomeini masih hidup, beliau akan menginstruksikan jihad. Namun Imam (Ali) Khamenei dengan wawasan luasnya menyebut bahwa kedua belah pihak (AS dan Saddam) berada di jalur kebatilan. Sebab itu, beliau melarang Iran terlibat,” tuturnya.
“Terkait Afghanistan di era Bush, ketika para diplomat kita dibunuh, beberapa pihak di dalam negeri berusaha melancarkan operasi (di Afghanistan). Namun Pemimpin Revolusi mencegahnya dan berkata bahwa perang tidak membawa kemaslahatan bagi Iran.”
Sehubungan dengan perang di Ukraina, Hajizadeh mengatakan, ”AS sudah merancang rencana sejak tahun 2014. Saat ini, tiap kali ada rencana untuk mengakhiri perang, yang kadang kala disetujui oleh Eropa, China, dan Ukraina, rencana itu selalu ditentang AS, sebab mereka sendiri yang merencanakan perang ini. Mereka menerapkan plot, yang dahulu dibuat untuk Iran, bagi sebagian negara lain.”
“Sekarang negara-negara Asia Barat terlibat dalam berbagai perang yang diciptakan AS untuk mereka, seperti Afghanistan, Irak, Yaman, Suriah, dan Libya. Ini lantaran kepentingan AS ada dalam menciptakan perang dan mengacaukan negara-negara,”tandasnya. (af/alalam)