Peringatan Hari Tahanan Palestina, Ini Kisah Pilu Tahanan Usia 14 Tahun

0
415

Istabraq Noor

Ramallah, LiputanIslam.com—Hari ini, Jumat (17/4), merupakan Hari Tahanan Palestina. Ketika banyak warga Palestina di seluruh dunia saling berbagi rasa pilu atas hari ini, demikian pula dengan Istabraq Noor yang tak dapat menghilangkan ingatannya yang mengerikan di penjara Israel ketika dia masih di bawah umur.

Orang-orang yang berhasil bebas dari penjara Israel pasti dipenuhi dengan kisah-kisah kelam tentang penyiksaan. Ketika Istabraq Noor dibawa ke penjara pada tanggal 21 Oktober 2015 di usia 14 tahun, ia juga tidak yakin bisa kembali hidup-hidup.

“Tentara Israel pertama menembak dan melukai saya. Kemudian mereka menyeret saya melalui jalur gunung yang berbahaya. Para pemukim Yahudi berusaha merebut saya dari tentara. Saya pikir itu adalah akhir hidup saya,” tuturnya ketika berusaha menggambarkan momen awal penahanannya.

Noor ditangkap di desa pegunungan di Madama yang dekat dengan pemukiman Yahudi bernama Yitzhar. Menurut laporan media, tentara Israel menembak Noor karena menduga ia hendak melukai penduduk Israel. Padahal, dalam kejadian itu, Istabraq adalah satu-satunya orang yang terluka.

“Para tentara memukuli saya dengan keras sementara luka peluru terus mengeluarkan darah. Mereka meneriaki saya sambil menghina,” katanya.

Istabrq pun pingsan dan dibawa ke Rumah Sakit Schneider dekat kota Jaffa. Ketika ia sadar, dia tengah diborgol dan pergelangan kakinya diikat ke tempat tidur dengan rantai.

“Petugas wanita yang mengawal saya, melemparkan penghinaan rasis yang provokatif, mencemooh saya dan memainkan lagu-lagu yang menggambarkan penderitaan anak-anak Palestina di bawah penjajahan untuk membuat saya jengkel,” katanya.

Selama masa penahanan, Noor berkali-kali dipindahkan ke rumah sakit dengan borgol, rantai di pergelangan kaki dan didampingi oleh Unit Nahshon dari Angkatan Darat Israel yang bertanggung jawab untuk mengawal para tahanan.

“Warga Israel di rumah sakit itu terus menghina saya dan membuat komentar rasis,” kisahnya kepada kantor berita Anadolu.

Noor menambahkan, selama ia diinterogasi di rumah sakit, petugas intelijen Israel mengancam akan menahan keluarganya dan menghancurkan rumahnya. Kerudungnya juga disita dan baru dikembalikan setelah 40 hari. “Saya dipaksa untuk menjalani inspeksi telanjang, kepala penjara melepas perban [luka]. Itu tidak hanya berbahaya secara medis, tetapi juga mempermalukan saya,” tuturnya getir.

Setelah menghabiskan 40 hari di sel isolasi, dia dipindahkan ke Penjara Hasharon pada awal Desember 2015 di tengah musim dingin yang membeku. Dia ditempatkan di sel berisi 15 remaja dan 30 orang dewasa.

Ayah dan saudara perempuan Noor baru diizinkan untuk berkunjung setelah enam bulan penahanan. Ibunya terus ditolak berkunjung selama 20 bulan.

“Paman saya yang baru berusia 18 tahun dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Sepanjang penahanan saya, dia terus mengirimi saya surat berisi pesan agar saya tetap sabar dan tidak pernah berhenti bermimpi,” katanya. Menurutnya, mimpi adalah sahabat  terbaik bagi para tahanan.

Pada malam terakhirnya di penjara, Noor menerima surat perpisahan dan souvenir buatan tangan dari para teman napinya. Hadiah-hasih tersebut merupakan harta tak ternilai baginya.

Sejak 1967, pasukan Israel telah menangkap lebih dari 13.000 wanita Palestina. Selama periode 2015-2016, lebih dari 20 gadis remaja ditangkap dari berbagai pos pemeriksaan militer.  Di pusat tahanan Al-Damon dekat Haifa, 16 tahanan wanita adalah ibu-ibu, 12 adalah pasien dengan penyakit kronis, dan 8 ditembak ketika ditangkap oleh para tentara. (ra/aa.com.tr)

DISKUSI: