Nuklir Rusia dalam Kondisi Siap Tempur, AS Meradang

0
553

LiputanIslam.com –Presiden Rusia Vladimir Putin secara resmi telah menginstruksikan militernya untuk menyiagakan apa yang disebutnya sebagai ‘segala bentuk kekuatan pencegahan’, termasuk kekuatan nuklir negara, dalam kelanjutan operasi militernya atas Ukraina. Dalam pernyataan yang dikeluarkan Minggu (27/2), Putin mengaitkan instruksi terbarunya ini dengan segala macam tindakan Barat yang disebutnya jauh dari sikap ‘bersahabat’ dalam merespon eskalasi krisis Ukraina.

“Saya memerintahkan Menteri Pertahanan dan Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Rusia untuk menempatkan ‘kekuatan-pencegahan’ tentara Rusia ke dalam mode spesial tempur,” kata Putin, sebagaimana yang dilansir oleh AFP. Putin juga menambahkan bahwa sikap tidak bersahabat Barat terhadap Rusia itu terlihat jelas dari penjatuhan sanksi ekonomi sepihak yang dilakukan seumlah negara Barat terhadap Rusia paska operasi militer Moskow ke Ukraina.

Merespon instruksi terbaru Putin tersebut, Duta Besar AS untuk PBB, Linda Thomas-Greenfield, mengatakan kepada CBS bahwa tindakan Putin itu semakin meningkatkan konflik dan ‘tidak bisa diterima’. Menurut Thomas-Greenfield, AS akan ‘terus mencari tindakan baru dan bahkan lebih keras terhadap Rusia’.

Seorang pejabat senior AS di Pentagon menyatakan bahwa instruksi nuklir Putin tersebut sebagai bentuk eskalasi lebih lanjut dari konflik. Baginya, Putin telah bermain-main dengan kekuatan nuklirnya, yang –jika terjadi miskalkulasi– tindakannya ini akan merembet ke mana-mana dan akan memperluas krisis ke arah yang lebih parah.

Seperti diberitakan sebelumnya, pada Kamis pagi (24/2/2022), Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan operasi militer di wilayah Denbas sebagai tanggapan atas permintaan bantuan militer dari para pemimpin wilayah separatis di Ukraina timur. Selanjutnya, jet tempur militer Rusia, artileri, dan sistem rudal menargetkan berbagai posisi militer dari timur ke barat, dan utara ke selatan Ukraina.

 

Presiden Ukraina Volodymyr Zelinsky Sabtu (26/2) menyerukan konfrontasi ekonomi Eropa-Barat dengan Rusia. Tak lama setelah Presiden Komisi Eropa mengumumkan bahwa aset Bank Sentral Rusia akan dibekukan, Amerika Serikat, Kanada, Prancis, Italia, Inggris, Jerman, dan Komisi Eropa mengumumkan dalam pernyataan bersama bahwa mereka telah memisahkan bank-bank Rusia dari Swift Sistem.

Rusia sendiri menyatakan bahwa operasi militer yang dilakukan negaranya atas Rusia sebagai bentuk pertahanan negara itu atas sikap agresif Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang terus memprovokasi sejumlah negara Eropa, dengan tujuan menggerogoti kedaulatan Rusia. Finlandia dan Swedia, misalnya, meskipun berkali-kali diingatkan oleh Rusia, kedua negara itu hari Sabtu (26/2) menyatakan mereka akan bergabung dengan NATO jika mereka mau.

Kementerian luar negeri Rusia memperingatkan pada hari Jumat bahwa kedua negara akan bergabung dengan NATO, dengan mengatakan langkah itu akan memiliki “konsekuensi militer dan politik yang serius” untuk Helsinki dan Stockholm. Pernyataan itu dibuat oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Sakharova, yang langsung digambarkan oleh kalangan politik sebagai ancaman serius bagi Swedia dan Finlandia.

Moskow telah berulang kali memperingatkan agar Swedia dan Finlandia tidak bergabung dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara. Meskipun Swedia dan Finlandia sama-sama bekerja dengan NATO sejak 1990-an, mereka tidak pernah menjadi anggota pakta pertahanan yang dikomandani AS itu. Hanya saja, belakangan, Perdana Menteri Swedia Magdalena Anderson mengatakan pada sebuah konferensi pers, “Saya ingin memperjelas bahwa Swedia akan memilih jalurnya sendiri dalam masalah keamanan, tanpa mempedulikan tekanan dan ancaman dari pihak manapun.” (os/li/afp/alwaght)

DISKUSI: