Isfahan, LiputanIslam.com –Iran kembali menggelar perhelatan penganugerahan Mustafa Prize edisi ke-5 di kota Isfahan, Iran, Jumat, 29 September 2023. Pada edisi tahun ini, kelima ilmuwan yang mendapatkan hadiah tersebut masing-masing berasal dari Iran, Mesir, Lebanon, Malaysia, dan Uni Emirat Arab. Kelima ilmuwan tersebut masing-masing mendapatkan hadiah sebesar 500 ribu Dollar AS, atau sekitar Rp 7,6 Miliar.
Dilansir dari Parstoday, Omid Farrokhnejad, seorang profesor berkebangsaan Iran di Universitas Harvard, AS, dinyatakan sebagai penerima penghargaan di bidang teknologi biologi dan kedokteran. penelitiannya tentang “Desain, Pengembangan dan Evaluasi Klinis Obat Baru Berdasarkan Nanopartikel Polimer”, dianggap sebagai terobosan sangat berharga di bidang ini, yang dilakukan oleh seorang iomuwan Muslim.
Sementara itu, Ahmed Hassan, seorang ilmuwan berkebangsaan Mesir dari Queen’s University, Kanada, terpilih sebagai pemenang di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Ahmed Hassan melakukan berhasil mengembangkan model “Exploring Software Repositories (MSR)”.
Di bidang ilmu kedokteran murni, Samia Khoury, yang merupakan profesor di Universitas Beirut menjadi pemenang penghargaan ini. Ia melakukan penelitian tentang “Pendekatan Baru dalam Medical Science”.
Dari kawasan Asia Tenggara, Ahmad Fawzi Ismail, seorang profesor di Universitas Sains dan Teknologi Malaysia, berhasil memenangkan penghargaan di bidang ilmu dasar dan teknik atas karyanya tentang “Pengembangan Aplikasi Teknologi Membran”.
Iluwan kelima yang meraih penghargaan ini adalah Murat Avisal dari New York University di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Ia meraih penghargaan di bidang teknologi informasi atas karyanya mengenai “Komunikasi Nirkabel Optik”.
Mustafa Prize adalah penghargaan yang khusus diberikan kepada ilmuwan Muslim di seluruh dunia. Penghargaan ini diberikan setiap dua tahun sekali. Hossein Rabbani, ketua Yayasan Mustafa Prize, mengatakan 57 negara Islam terlibat dalam event ini, dan para ilmuwan dari 57 negara tersebut berkesempatan untuk memenangi penghargaan Mustafa Prize. Menurut Rabbani, Mustafa Prize bertujuan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa para ilmuwan Muslim juga memiliki prestasi di bidang sains dan teknologi yang memberikan sumbangsih bagi peradaban dunia.
Pada tahun 2016, Majalah Science menyebut Mustafa Prize sebagai “Nobel Muslim”. Tahun lalu, pemenang hadiah Noble mendapatkan penghargaan sebesar sekitar 1 juta Krona Swedia, atau sekitar Rp 14 Miliar. Dengan demikian, jumlah hadiah Mustafa Prize itu sekitar setengah dari jumlah hadiah Noble. (os/li)