Menhan Inggris: Jangan Pernah Remehkan Putin

0
180

London,LiputanIslam.com-Menhan Inggris Ben Wallace memperingatkan bahwa London jangan pernah menganggap enteng Presiden Rusia Vladimir Putin, sebab krisis Ukraina masih berlanjut.

YahooNews melaporkan, Wallace berkata bahwa Rusia bisa saja menargetkan Inggris dan para sekutu Eropanya lantaran terus mendukung Ukraina.

Menurutnya, Rusia sudah menunjukkan dirinya sebagai “ancaman untuk Barat”, bahkan sebelum perang di Ukraina dimulai.

“Serangan siber yang dilakukan Rusia telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Sepanjang tahun-tahun ini, kita menyaksikan berbagai serangan ke sistem-sistem kami dan para sekutu. Kami telah melihat ancaman-ancaman dari Rusia, baik ancaman nuklir maupun ancaman kepada negara-negara seperti Swedia, Lithuania, bahkan Polandia,” ujar Wallace dalam wawancara dengan BBC, beberapa hari sebelum Rusia melancarkan serangan ke Kiev.

Menhan Inggris memperingatkan, sebelum ini Presiden Rusia pernah melontarkan ancaman dan dia tidak berbohong soal itu.

“Ancaman sebenarnya adalah sistem Rusia meyakini bahwa jika ia berada dalam ancaman, ia akan mengambil tindakan terhadap siapa pun yang menciptakan ancaman itu. Doktrin mereka tidak terbatas kepada geografi atau tempat yang merupakan medan tempur mereka. Kedua, orang-orang meremehkan Putin. Mereka menganggap enteng apa yang dikatakan Putin secara terbuka. Ini perbuatan berbahaya,” kata Wallace.

Seorang petinggi Parlemen Rusia baru-baru ini menyatakan, jika Perang Dunia III terjadi, London akan menjadi target pertama Rusia.

Anggota Komite Pertahanan Rusia, Andrey Gurulyov dalam sebuah acara televisi Rusia mengatakan, ”Dalam operasi udara pertama, kita akan menghancurkan semua satelit musuh. Bagi kita, status orang AS atau Inggris tidak penting. Kita akan menganggap mereka semua adalah NATO.”

“Sudah pasti kita tidak akan memulai dari Warsawa, Paris, atau Berlin. Tempat pertama yang akan dihantam adalah London. Jelas bahwa ancaman dunia berasal dari kaum Anglo-Saxon,”tandasnya. (af/fars)

DISKUSI: