Mantan Pejabat Militer AS: Virus Corona adalah Operasi Perang Psikologis AS

0
515

Washington, LiputanIslam.com–Seorang mantan perwira perang psikologis militer AS mengatakan bahwa virus corona mungkin merupakan alat operasi perang psikologis yang sengaja dibuat oleh Amerika untuk menyebarkan ketakutan, kepanikan, dan intimidasi di pasar ekonomi China.

Sejak wabah ini muncul di China pada Desember lalu, virus corona telah menginfeksi lebih dari 90.000 orang di seluruh dunia dan menewaskan lebih dari 3.000 orang. Mayoritas kasus infeksi dan kematian berada di negara itu sendiri.

Menurut mantan pejabat militer tersebut, Scott Bennett, alasan AS menciptakan operasi perang psikologis ini adalah untuk mengisolasi China serta aliansi militernya, Rusia dan Iran.

“[China-Iran-Rusia] adalah aliansi militer yang mengawasi Teluk Persia dan menyalurkan solidaritas mereka dalam membela Suriah dari … rezim Recep Erdogan dari Turki, Mohammed bin Salman dari Arab Saudi, dan Benjamin Netanyahu dan negara Zionis Israel. Tujuan [operasi ini] adalah untuk menciptakan gangguan yang akan mematahkan aliansi ini untuk eksploitasi Barat,” tuturnya.

Bennet menilai, wabah virus corona paling baik dijelaskan sebagai operasi psikologis yang dirancang untuk menimbulkan panik dan juga membuka pintu bagi ‘bantuan dan pengembangan vaksinasi kekebalan tubuh’.

“Ingat ketika Barat dan deep state [AS] dibanjiri banyak perusahaan farmasi besar yang menciptakan vaksin yang tidak berdampak apa-apa kecuali lebih banyak kerusakan dan lebih banyak kanker pada tubuh manusia untuk tujuan keuntungan dan eksploitasi,” jelasnya.

Operasi psikologi militer AS diharapkan akan menyebabkan pemberontakan besar ekonomi dan politik di dunia. Salah satu targetnya adalah Iran.

“Ini adalah waktu untuk mengobati virus corona seperti [seharusnya] … sebagai tindakan pencegahan, Namun, pada saat yang sama, [kita tidak boleh] bereaksi berlebihan ke titik sehingga kita [ingin melakukan] penggulingan rezim, revolusi warna, atau hal-hal yang tipikal dilakukan Barat lainnya…” simpulnya. (ra/presstv)

 

DISKUSI: