Mantan Anggota KGB: Trump 40 Tahun Menjadi Mata-Mata Rusia

0
318

Foto: vox.cpm

Washington, LiputanIslam.com –Pernyataan mengejutkan dibuat seoang mantang mata-mata Dinas Rahasia Rusia KGB) yang menyatakan bahwa mantan Presiden AS Donald Trump sudah dibentuk menjadi aset dinas rahasia tersebut selama 40 tahun. Adalah Yuri Shvets, mantan mata-mata Rusia, yang mengungkapkan hal itu dalam sebuah berjudul “American Kompromat”, karya jurnalis Craig Unger. Dalam buku tersebut dibahas relasi Trump dan Moskwa. Menurut inbestigasi Unger, KGB telah merekrut puluhan pengusaha AS sebagai aset tanpa mereka sadari. Salah satu pengusaha yang direkrut itu adalah Donald Trump yang kemudian menjadi Presiden AS 2016-2020.

Seperti yang dilansir The Guardian (Ahad, 31/1/2021), Shvets menuturkan bahwa KGB sudah mengidentifikasi Trump sejak 1980-an, ketika bisnis real estate sedang sangat marak. Menurut Shvets, rekruitmen atas Trump ternyata keliru dan bukan merupakan rencana yang yang cerdik. “Kami membesarkannya dan 40 tahun kemudian, dia jadi presiden,” kata Shevts. Trump dimanfaatkan menjadi mata-mata Uni Soviet dan Rusia, dan punya andil dalam propaganda anti-Barat.

Shvets menyatakan bahwa posisi Trump sama dengan jaringan mata-mata Inggris yang biasa disebut dengan ‘The Cambridge Five’. Jaringan mata-mata Inggris itu memberikan informasi rahasia ke Uni Soviet selama Perang Dunia II dan awal Perang Dingin.

Shvets juga mengaku bahwa ia sempat dikirim ke Washington DC oleh Uni Soviet pada 1980. Saat itu, ia menyamar menjadi koresponden untuk kantor berita Rusia, Tass. Kemudian, Shvets pindah secara permanen dan memperoleh kewarganegaraan AS pada 1993. Setelah menjadi warga negara AS, ia bekerja sebagai penyelidik keamanan perusahaan dan mitra mata-mata Rusia bernama Alexander Litvinenko.

Dalam penuturan Shvets, Trump menjadi target operasi mata-mata gabungan antara Dinas Intelijen Cekoslovakia yang bekerja sama dengan KGB sejak tahun Shvets berada di AS. Trump menjadi target di saat ia mulai merambah bisnis properti, dan membangun Hotel Grand Hyatt New York dekat stasiun Grand Central. Trump membeli 200 set televisi untuk hotel itu dari Semyon Kislin, seorang imigran Soviet yang ikut memiliki toko peralatan elektronik Joy-Lud di Fifth Avenue. Shvets mengatakan bahwa Joy-Lud sebenarnya dikendalikan oleh KGB, dan KGB melihat Trump memiliki potensi untuk dimanfaatkan menjadi mata-mata.

Lalu, Trump mengunjungi Moskow dan St. Petersburgh pada 1987. Saat itulah, Shvets mempengaruhi Trump untuk memberikan arahan dan poin-poin yang dirumuskan oleh KGB. Setelah berkunjung ke Moskow itulah Trump mulai terlihat mencari cara agar bisa menjadi presiden AS. Shvets juga menjelaskan bagaimana Trump pernah memasang iklan di sejumlah surat kabar, seperti New York Times, Washington Post, dan Boston Globe yang berisi pendapat yang meragukan keikutsertaan AS di Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan menuduh Jepang mengeksploitasi AS.

Shvets menuturkan bahwa ia lalu pulang ke Rusia setelah iklan itu muncul. Ia menghadap ke pimpinan KGB, dan para pejabat KGB terlihat senang karena rencana mereka untuk membina Trump berhasil, dan permainan Trump itu dianggap sebagai salah satu capaian besar KGB.

Jika keterangan Shvets benar, ini akan menjadi salah satu skandal terbesar politik AS, karena, dengan segala kehebatannya, ternyata dinas rahasia AS gagal mengenali seorang yang terkait dengan KGB hingga ia lolos menjadi orang pertama di Negeri Paman Sam itu. (os/Guardian/CNN/Kompas)

DISKUSI: