TelAviv,LiputanIslam.com-Mantan PM Israel Yair Lapid memperingatkan konsekuensi keruhnya hubungan Kabinet Benyamin Netanyahu dan AS, serta dampaknya atas tercapainya kesepakatan Iran-AS.
Menurut laporan Arutz Sheva (Israel National News), Lapid menyebut kesepakatan pencabutan sanksi Iran oleh AS sebagai hal yang membahayakan. “Kita harus melakukan segala yang dibutuhkan demi mencegah kesepakatan ini,” kata pemimpin kubu oposisi Israel itu.
Lapid menyinggung perselisihan antara Pemerintahan Netanyahu dan Pemerintahan Joe Biden, seraya menambahkan, ”Menjauhnya Israel dari Pemerintah AS bisa saja membuat kita membayar mahal.”
“Kesepakatan nuklir dengan Teheran bisa saja membatasi medan kerja kita,”ujar Lapid.
Sementara itu, Komandan Pasukan Cadangan Irsrael Yitzhak Barik mengakui, di tengah Tentara Israel ada ketakutan besar terhadap tindakan-tindakan Hasan Nasrallah, yang belum pernah ada padanannya sebelum ini.
Dalam pidato Kamis lalu, Sekjen Hizbullah menyatakan bahwa saat ini Rezim Zionis bersembunyi di balik dinding dan api, serta tidak mampu memaksakan syarat-syaratnya saat berunding dengan Palestina.
Barik menyatakan, Israel tidak menciptakan kekuatan yang dengannya ia bisa memasuki sebuah perang regional. “Satu-satunya cara adalah (membuat) sebuah Garda Nasional Militer, yang dibentuk dari para serdadu cadangan dengan rentang usia antara 25 hingga 50,”ujarnya.
“Israel saat ini menghadapi problem besar, sebab ia tidak melakukan apa pun saat harus membalas (operasi-operasi kubu Resistansi). Penyebabnya adalah Israel tidak siap untuk berperang. Tentu balasan yang akan menyusul perang adalah bencana yang sudah saya bicarakan sejak lama.”
“Andai kita punya nyali dan kekuatan untuk perang, kita lebih berani dari ini (untuk memulai perang). Nasrallah tahu masalah ini. Sebab itu, ia memegang kendali dan mengontrol situasi,”kata Barik. (af/alalam/fars)