Konten LGBT di Film-Film Animasi Hollywood Mengancam Anak-Anak Kita

0
712

LiputanIslam.com-Para pendukung LGBT di Barat menggunakan segala cara agar penyimpangan ini dianggap sebagai hal lazim di tengah masyarakat. Dalam hal ini, Hollywood memberikan pelayanan terbesar untuk mempopulerkan LGBT.

Penyebaran serangan budaya sangat membutuhkan sebuah pijakan demi mengaburkan sisi negatif LGBT sebagai sebuah fenomena amoral. Sebab itu, Barat menggunakan film sebagai sarana.

George Weinberg, seorang psikolog dan aktivis hak-hak kaum homoseksual pada tahun 1972 menggunakan kata “homophobia” dalam bukunya yang berjudul “Society and the Healthy Homosexual.” Setahun setelahnya, Asosiasi Psikolog AS menghapus homoseksualitas dari daftar gangguan psikis.

Bisa dikatakan bahwa dalam 3 dekade terakhir di Hollywood, tak ada penyimpangan moral yang berubah menjadi sebuah norma, bahkan hak asasi, seperti halnya homoseksualitas.

Film memiliki peran terbesar dalam mempopulerkan hal ini. Sebagai contoh, film “Philadelphia” mengisahkan seorang pria gay bernama Andrew Beckett. Film ini mengesankan Beckett sebagai orang yang tertindas, agar penonton merasa iba dan memahaminya. Film semacam ini mengaduk emosi penonton agar berpihak kepada figur tersebut; figur yang mewakili kalangan yang akan mengubah sebuah tabu amoral menjadi hal lazim.

Hilary Swank pada tahun 1999 meraih Piala Oscar sebagai aktris wanita utama terbaik untuk film homoseksual “Boys Don’t Cry.” Film “Blue is the Warmest Colour” yang mengangkat tema lesbianisme memenangkan Palme d’Or pada Festival Film Cannes tahun 2013. Dan masih banyak film-film bertema sejenis yang meraih penghargaan di pentas sinema dunia.

Pemopuleran Konten LGBT dalam Film-film Animasi Anak

Namun kini persoalan sudah berubah menjadi krisis. Hollywood kini memasukan konten-konten LGBT ke film animasi untuk anak-anak. Anak yang bahkan belum boleh untuk mempelajari konsep dan pendidikan seksual dalam hubungan antarmanusia, kini harus menonton konten-konten bertemakan homoseksualitas.

“In a Heartbeat” adalah film animasi pertama yang mengandung konten LGBT. Film pendek berdurasi 4 menit ini dirilis pada tahun 2017 lalu. Kisahnya tentang seorang anak lelaki SD yang menyukai anak lelaki lainnya.

Setelah dirilis di YouTube, film animasi pendek ini ditonton oleh lebih dari 40 juta orang dalam salah satu postingan. Film ini sendiri telah ditonton sebanyak total 100 juta kali.

Tak berhenti sampai di situ, kini para perancang utama serangan budaya menyusupkan LGBT dalam salah satu film animasi paling populer di dunia.

“Toy Story 4” dalam salah satu scene memperlihatkan dua wanita lesbian yang mengantarkan anak mereka ke tempat penitipan anak, lalu meninggalkannya di sana. Hal ini mendorong ibu-ibu di AS menggelar kampanye untuk memboikot film tersebut. Lebih dari 12 ribu ibu di AS bergabung dalam kampanye ini dan menuntut agar film ini tidak diputar. Sayangnya upaya para ibu yang khawatir itu gagal. Lobi-lobi kaum homoseksual di Walt Disney jauh lebih kuat dan pemutaran “Toy Story 4” tetap berlanjut.

Para ibu masih merasa syok akan konten LGBT di “Toy Story 4,” namun mereka dikejutkan lagi dengan film animasi buatan Disney dan Pixar berjudul “Onward,” yang memperkenalkan karakter lesbian secara lebih gamblang lagi.

Film “Onward” telah diputar di bioskop-bioskop AS. Meski demikian, sejumlah negara Timteng seperti Kuwait, Oman, Qatar, dan Saudi melarang pemutaran film tersebut. Rusia, Bahrain, UEA, Lebanon, dan Mesir menyensor sebagian scene tersebut. Rusia pada tahun lalu juga menyensor fim “Rocketman” untuk alasan serupa. Film itu menceritakan kisah hidup Elton John, penyanyi gay terkenal asal Inggris.

Karakter Pertama yang Resmi Menyebut Dirinya Lesbian

Film “Onward” menarik perhatian karena memperkenalkan karakter pertama lesbian di dunia film Disney dan Pixar. Opsir Specter adalah karakter wanita dalam film tersebut, yang suaranya disulih oleh Lena Waithe, aktris dan penulis lesbian.

Ini adalah kali pertama sebuah karakter animasi mengenalkan dirinya sebagai “lesbian.” Dan Scanlon (sutradara Onward) menanggapi protes konten LGBT dalam filmnya dengan mengatakan,”Kami ingin menunjukkan dunia sekarang ini!”

Dalam film tersebut, ketika karakter Opsir Bronco mengisahkan kesulitan hidup barunya, Opsir Specter menghiburnya dan mengatakan,”Putri pacar wanitaku juga menyuruhku menata rambutku.” Meski pacar wanita Specter tak diperlihatkan dalam film, tapi kalimat singkat Specter sudah menjelaskan orientasi seksualnya.

Poin yang perlu disebutkan adalah bahwa tujuan pemopuleran LGBT oleh industri film Hollywood hanyalah “menjadikan masalah ini sebagai hal biasa dan lazim sehingga virus ini menyebar di tengah masyarakat.” Dalil logisnya adalah:(pertama) jumlah kaum homoseksual tidak begitu banyak sehingga Hollywood harus memproduksi film khusus bagi mereka. Selain itu, kaum homoseksual juga tidak memedulikan orang-orang di balik serangan budaya ini dan yang penting adalah penyebaran konten-konten LGBT, (kedua) konten animasi untuk tingkat usia anak-anak tidak akan dimanfaatkan kaum homoseksual dewasa.

Film “Onward” bukan film terakhir yang akan mengusung konten-konten LGBT. Hollywood akan terus mencemarkan semua genre film di berbagai usia dengan konten-konten amoral serupa. Bagi Hollywood, timbulnya problem bagi keluarga-keluarga dunia bukan hal yang perlu dipikirkan. (Disarikan dari tulisan Alireza Sepahvand/af/Fars)

 

DISKUSI: