Kisah Rezim Israel Halangi Pasien Leukemia Gaza Berobat ke Luar Negeri

0
170

Gaza, LiputanIslam.com–Seorang pasien 55 tahun di Jalur Gaza dipersulit berobat ke luar negeri oleh tentara Israel.

Kafa, yang didiagnosis menderita leukemia limfositik kronis (CLL) pada Agustus 2018, menjalani kemoterapi di Rumah Sakit Eropa di Khan Younis, Jalur Gaza. Pada Januari 2020, ia dirujuk ke Rumah Sakit Istishari di Ramallah, Tepi Barat, untuk mendapatkan obat ibrutinib, antibodi monoklonal yang digunakan dalam pengobatan CLL.

Namun, dokter mendeteksi bahwa penyakitnya tidak merespon pengobatan sebelumnya dengan baik.

“Saya mengajukan sepuluh permohonan izin kepada otoritas Israel untuk menyeberangi Erez untuk mendapatkan pengobatan, tetapi mereka hanya menyetujui satu dari permohonan saya,” kata Kafa.

Kafa pertama kali ingin menuju sebuah rumah sakit di luar Gaza pada November 2019. Dia diminta untuk mengikuti interogasi keamanan dengan otoritas Israel di pos pemeriksaan Beit Hanoun / Erez, namun tidak ada yang bertemu dengannya. Pada Desember 2019 dan Januari 2020, dia mengajukan empat janji temu lainnya, namun semuanya ditolak atau ditunda.

Akhirnya, pada Februari 2020, setelah penundaan sekitar tiga bulan dan setelah mengajukan banding atas keputusan otoritas Israel melalui Pusat Hak Asasi Manusia Palestina dan Pusat Hak Asasi Manusia Al Mezan, Kafa akhirnya diizinkan untuk bepergian. Namun, itu satu-satunya kesempatan ia mengakses rumah sakit.

Antara Februari dan Oktober 2020, Kafa tidak mengajukan izin pengobatan lagi karena situasi wabah COVID-19 di Israel dan Tepi Barat. Sejak Oktober 2020, Kafa telah mengajukan empat permohonan izin yang akhirnya ditolak.

Kafa bekerja sebagai petugas kebersihan di salah satu rumah sakit Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza. Dia memiliki keluarga dengan enam anak. Penyakitnya membuatnya sulit untuk melanjutkan pekerjaan.

Dalam laporan oleh Palestine Chronicles, Kafa mengatakan, “Saya menderita sakit parah di perut saya dan kaki kiri saya semakin bengkak setiap hari. Saya membutuhkan perawatan yang tidak kami miliki di sini [di Gaza]. Bukankah hak saya untuk mendapatkan perawatan itu? Saya tidak ingin kesehatan saya memburuk lagi.” (ra/PC)

DISKUSI: