Ketika Pengadilan Israel Ancam Keberadaan Umat Kristen di Yerusalem

0
94

Yerusalem, LiputanIslam.com–Para pemimpin Gereja di Yerusalem membuat pernyataan bersama bahwa putusan pengadilan Israel atas properti Gereja Ortodoks Yunani di Gerbang Jaffa, Yerusalem, telah mengancam keberadaan umat Kristen di kota suci itu.

“Kami, para pemimpin Gereja dan Komunitas Kristen di Yerusalem bersatu dalam komitmen kami untuk melindungi Status Quo historis dari Situs Suci dan hak-hak Gereja yang diakui secara universal,” kata para pemimpin gereja.

“Kasus Gerbang Jaffa mengancam Status Quo ini. Kami prihatin dengan keputusan Pengadilan Distrik Yerusalem baru-baru ini yang menolak kasus Gereja Ortodoks Yunani. Kami sangat mendukung upaya Gereja Ortodoks Yunani dalam permohonan mereka untuk mencapai keadilan,” lanjut mereka.

Saat ini, Gereja Ortodoks Yunani sedang berjuang di pengadilan organisasi-organisasi pemukiman Yahudi yang berusaha mengambil alih properti Gerbang Jaffa dengan dalih kepemilikan. Dalih ini ditentang keras oleh gereja.

Para pemimpin gereja berjumlah 13 orang itu menegaskan bahwa mereka tidak mau melihat kasus ini hanya sebagai sengketa properti. Namun, ada keterlibatan kelompok-kelompok radikal yang berupaya mengambil kendali atas properti di Gerbang Jaffa sebagai upaya sistematis untuk merusak integritas Kota Suci, menghalangi rute peziarah Kristen, dan melemahkan keberadaan umat Kristen di Yerusalem.

Mereka pun menyerukan kepada pemerintah Israel agar bertindak sebagai penjaga warisan Kristen di Kota Tua, Situs Suci, dan hak-hak penduduk Kristen di Yerusalem.

“Ini adalah tempat-tempat yang dipandang oleh lebih dari dua miliar orang Kristen di seluruh dunia sebagai jantung dari iman mereka; yang dikunjungi jutaan peziarah Kristen setiap tahun; dan di mana orang-orang Kristen setempat menghayati iman mereka,”  tegas mereka.

Menurut wartawan Palestina, Ramzy Baroud, strategi Israel berlandaskan apartheid ini pada akhirnya akan mengusir semua umat Kristen dari tanah Palestina. (ra/palestinechronicles)

DISKUSI: