Kerjasama AS-Teroris di Kamp Rukban-Suriah, Selundupkan Senjata Lewat Truk Kemanusiaan

0
685

Sumber foto: PBS

Damaskus,LiputanIslam.com—Saat wabah Covid-19 menyedot perhatian mayoritas media, perhatian pada kasus-kasus lainnya menjadi kurang, khususnya terkait teragedi yang dimainkan Amerika Serikat (AS) di Suriah Tenggara.

Media-media Barat yang sering memberitakan kelompok teroris di Idlib pun mengabaikan kejadian ini. Kejadian berlangsung di area perbatasan Irak dan Suriah, tempat pangkalan militer ilegal AS bercokol, pangkalan Al-Tanf. Di sana ada Kamp pengungsi, Rukban, yang menampung 13.500 warga sipil Suriah dan 6.000 anggota teroris bersenjata dari kelompok Maghawir Al-Thawra.

Pada 28 Maret lalu, Komite Kerjasama Suriah-Rusia merilis pernyataan di Damaskus ihwal keberhasilan mereka mengungkap dukungan AS untuk para teroris yang menguasai Kamp.

Bertamengkan bantuan kemanusiaan, AS memaksa PBB terlibat dalam tragedi ini. Truk-truk yang mengangkut bantuan PBB, menurut pernyataan itu, tidak hanya digunakan untuk mengirim makanan dan kebutuhan warga sipil yang menderita, tapi juga senjata dan amunisi untuk kelompok Maghawir Al-Thawra yang menguasai Kamp.

AS telah memanfaatkan para penghuni Kamp untuk melegalisasi pendudukan mereka di wilayah itu dan mengklaim keberadaan mereka untuk melindungi nyawa warga sipil di Kamp.

Situasi di dalam Kamp sungguh mengkhawatirkan. Para teroris memiliki kontrol penuh di Kamp Rukban, bahkan merekalah yang memutuskan siapa saja yang boleh makan dan siapa yang harus kelaparan.

Berdasarkan pernyataan itu juga, banyak warga sipil yang telah dievakuasi dari kamp Rukban dan direlokasi ke wilayah-wilayah yang dikuasai pemerintah. Melalui Kementerian Kesehatan, pemerintah Suriah memberikan fasilitas kesehatan gratis bagi seluruh warga Suriah di tempat pengungsian.

Para teroris telah mengancam para penghuni Kamp yang nekat keluar dengan ancaman yang mengerikan. Kelompok Maghawir Al-Thawra telah menjadikan warga sipil di Kamp Rukban sebagai sandera.

Russian Centre for Syrian Reconciliation mengatakan pada September 2019 lalu bahwa Kamp Rukban telah dikontrol oleh kelompok militan bersenjata dan mereka melarang bis-bis PBB di kamp tersebut digunakan untuk mengevakuasi warga sipil yang memerlukan, bahkan mereka menggunakan penghuni kamp sebagai tameng manusia.

Maghawir Al-Thawra telah menyita sejumlah besar kargo yang dikirim oleh PBB dan kelompok Bulan Sabit Merah Suriah, serta menggunakan barang bantuan untuk keperluan para teroris.

“Kadang-kadang kami mendapatkan sedikit bantuan dari kelompok Bulan Sabit Merah, kebanyakan bantuan-bantuan itu harus dibeli, tidak berikan secara gratis. Para teroris merebut bantuan secara gratis dan menjualnya kepada para pengungsi, begitulah cara mereka berbisnis. Untuk mendapatkan uang, kami harus bekerja di Kamp. Mereka membangun pabrik batu-bata dan kami harus bekerja di sana seperti anjing,” ucap Ahmad Mohammed, mantan penghungi Kamp Rukban yang telah dievakuasi ke Palmyra.

Mohammed menyebut kelompok Maghawir Al-Thawra telah menjual bantuan kemanusiaan yang mereka dapatkan secara gratis, “Bantuan medis juga dikendalikan oleh para teroris. Anda baru bisa mendapatkan akses ke para dokter jika Anda mau bekerjasama, jika tidak, tidak akan ada bantuan medis,” jelasnya.

Militer AS memanfaatkan keberadaan Maghawir Al-Thawra untuk melindungi pasukan mereka di wilayah ini yang jumlahnya terhitung sedikit. Pentagon tau, sangat sulit mendapatkan izin mendaratkan 6.000 pasukan ke Kamp Al-Tanf. Semua itu tidak perlu dilakukan, sebab mereka telah mengendalikan para teroris yang bisa melakukan tindak kejahatan tanpa ampun.

Baca: Akibat Krisis Kemanusiaan, Hampir 10 Jiwa Melayang Setiap Hari di Kamp Rukban dan Houl, Suriah

Pasukan AS secara ilegal telah menguasai wilayah Al-Tanf pada 2015, melanggar hukum internasional dan piagam PBB. Presiden Trump sempat berkoar memerintahkan pasukan AS untuk pergi dari Suriah. Tapi faktanya, sebagian pasukan justru mengepung ladang minyak Suriah di Deir Ezzor. Bagaimanapun juga, personil militer AS di pangkalan Al-Tanf tidak pernah diperintahkan mundur dari Suriah. (fd/Mintpress)

DISKUSI: