Kebebasan Kepemilikan Senjata di AS Kembali Makan Korban

0
315

Washington,LiputanIslam.com-Aksi penembakan dikabarkan terjadi di pelataran Universitas Virginia pada Minggu (13/11) lalu. Sebanyak 3 orang diberitakan tewas, sementara 2 lainnya terluka akibat aksi penembakan tersebut.

Pihak berwajib menyatakan mahasiswa bernama Christopher Darnell (22 tahun) sebagai tersangka dan menjadi buronan aparat keamanan.

Aksi penembakan berdarah ini menyusul sejumlah aksi mematikan serupa di sekolah-sekolah AS beberapa waktu lalu. Reuters melaporkan, di tahun ini saja puluhan orang telah tewas dan terluka akibat insiden penembakan. Hal ini memicu perdebatan panjang terkait pengendalian senjata di Negeri Paman Sam.

Salah satu aksi penembakan paling mematikan terjadi pada Mei silam. Seorang pria bersenjata membunuh 19 anak dan dua orang dewasa di Texas. Aksi penembakan di peringatan Halloween di Kansas City dan Chicago juga menewaskan satu orang dan melukai sekitar 20 orang lainnya.

Jual-beli senjata secara bebas dan penggunaan senjata api di AS mengambil nyawa beberapa orang tiap pekan di AS. Perbandingan statistik kekerasan dengan senjata antara AS dan negara-negara lain di dunia menunjukkan Negeri Paman Sam sebagai “negara spesial”. Tingkat terjadinya penembakan mematikan di AS lebih tinggi dibanding negara mana pun di dunia.

Sebagai negara yang ditempati sekira 5 persen dari populasi total warga dunia, AS menampung hampir 31 persen dari orang-orang yang melakukan pembunuhan massal dengan senjata api.

Berbagai analisis sudah digulirkan untuk mencari tahu penyebab tingginya aksi kekerasan bersenjata di AS. Namun keleluasaan warga AS dalam membawa senjata api disebut sebagai faktor utama dan terpenting problem sosial ini.

Berdasarkan laporan Pusat Riset Kongres AS, penduduk negara ini memiliki hampir separuh (48 persen) dari total 650 juta pucuk senjata nonmiliter yang ada di seluruh dunia. (af/fars)

DISKUSI: