Jubir Kemenlu Iran Bawa Masker Gas Saat Jumpa Pers, Untuk Apa?

0
413

Teheran,LiputanIslam.com– Jubir Kemenlu Iran, Naser Kanani dalam jumpa pers Senin (28/11) kemarin tampil di hadapan wartawan dengan membawa masker gas. Saat ditanya kenapa ia membawa masker gas, ia menjawab, ”Dalam jumpa pers Rabu lalu, di antara momen-momen yang mesti saya sebutkan adalah Hari Internasional Solidaritas dengan Korban Senjata Kimia.”

“Masker menakutkan yang saya bawa hari ini adalah kenangan bagi saya, juga lambang khas bagi bangsa Iran, warga Iran, dan Angkatan Bersenjata kita selama perang 8 tahun menghadapi Rezim Baath Irak,” lanjutnya.

Kanani menjelaskan bahwa Saddam bertanggung jawab atas invasi ke Iran dan perang Teluk I. Namun ada sejumlah negara Barat, termasuk Jerman, yang mengizinkan suplai bahan-bahan kimia kepada Saddam, meski tahu bahwa dia tidak menggunakannya untuk kepentingan industrial, namun demi membuat bom dan senjata kimia.

Di lain pihak, Staf Urusan Hukum  dan Internasional Kemenlu Iran, Reza Najafi mengatakan, ”Sebagai korban terbesar penggunaan sistematis senjata kimia di era kontemporer, Republik Islam Iran tidak memaafkan dan tak akan melupakan para pelaku atau memaafkan mereka.”

“Selama perang Iran-Irak, korporasi-korporasi Jerman dan AS telah menyuplai perangkat dan bahan-bahan prapembuatan senjata kimia kepada Rezim Saddam. Mereka adalah sekutu dalam kejahatan Saddam. Para pelaku dan penyokong kejahatan perang ini harus diadili, walau waktunya sudah lama berlalu,” imbuh Najafi dalam Konferensi Konvensi Pelarangan Senjata Kimia ke-7 di Den Haag. (af/fars)

Najafi menekankan komitmen negara-negara anggota untuk menghapus sanksi-sanksi sepihak yang tak manusiawi dan bertentangan dengan HAM atas Teheran, yang menyebabkan para korban serangan kimia di Iran tidak bisa mendapatkan obat dan perawatan yang dibutuhkan.

“Para korban senjata kimia di Iran satu kali menjadi korban penggunaan senjata kimia oleh Saddam di dekade 80. Mereka sekali lagi menjadi korban sanksi-sanksi tak manusiawi sepihak pada dekada 2020,” kata Najafi.

DISKUSI: