Israel-UEA Ingin Jadikan Pulau Socotra Yaman sebagai Pangkalan Intelijen

0
50

Socotra, LiputanIslam.com—Pasca kesepakatan normalisasi antara Israel dan UEA bulan lalu, kedua negara itu dilaporkan berencana menciptakan pusat militer dan intelijen di beberapa pulau strategis Yaman, termasuk Socotra.

Pulau-pulau strategis Yaman, terutama Socotra, merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Titik itu dianggap penting secara geopolitik karena seringkali menjadi titik nyala ketegangan antara Iran dan AS, Yaman dan Koalisi Saudi, dan titik sempit utama bagai transit laut dunia. Pulau itu dinilai sebagai hadiah yang sangat dibanggakan bagi aparat intelijen dan keamanan regional.

Pasca kesepakatan normalisasi, Israel semakin yakin untuk mengambil peran aktif di dalam perang Yaman, sebuah perang yang diluncurkan UEA bersama dengan Arab Saudi lebih dari enam tahun lalu.

Menurut salah satu sumber Yaman yang dikutip oleh Minpress News (10/9), UEA dan Israel telah menyelesaikan operasi logistik untuk membangun pangkalan pengumpulan intelijen dan fasilitas militer baru di pulau itu.

Kehadiran Israel di Socotra tidak hanya akan menambah kekuatan UEA melawan Houthi Yaman, tetapi juga akan memungkinkan pengawasan terhadap Oman, Iran, Pakistan, dan China yang dalam beberapa tahun terakhir, telah hadir di tanduk terdekat Afrika.

Menurut sumber lokal yang dilaporkan oleh Mintpress News, pekan lalu, sebuah kapal UEA telah tiba di Socotra dengan membawa personel militer UEA dan Israel, persenjataaan, dan peralatan komunikasi. Bahkan sebelum kesepakatan normalisasi UEA-Israel diumumkan, kedua negara itu telah mengirimkan delegasi ke Pulau Perim atau Mayyun, sebuah pulau vulkanik di Selat Mandeb di pintu masuk selatan Laut Merah.

Kepala suku pulau itu, Issa Salem Bin Yaqoot al-Soctari, mengatakan lewat sebuah pernyataan baru-baru ini bahwa UEA memang telah membawa personel Israel ke Socotra dan bahwa kedua belah pihak sudah mulai membangun pangkalan baru di sana.

Ia pun mengeluhkan “kebijakan [UEA yang mengakibatkan] penindasan, kelaparan, dan intimidasi” terhadap penduduk pulau itu.

Menurutnya, UEA ingin meniru kebijakan Israel di Palestina, yaitu mengubah demografi pulau itu dengan menampung orang asing secara massal. (ra/mintpress)

DISKUSI: