Iranophobia dan Afghanophobia, Kegagalan Terbaru Agenda Imperialisme

0
3384

Oleh: Mohammad Reza Ebrahimi

LiputanIslam.com –Hengkangnya AS dari Afghanistan adalah salah satu peristiwa dunia yang sangat besar di tahun 2021 lalu, sehingga mendapatkan atensi luar biasa dari berbagai kalangan di dunia. Banyak pembicaraan terkait fenomena tersebut, dan umumnya, diskusi banyak terfokus pada masa depan Afghanistan di bawah rezim Taleban.

Salah satu isu yang juga menjadi diskusi menarik adalah posisi Iran dalam kaitannya dengan transformasi Afghanistan. Lalu, muncullah upaya menguatkan Iranisme dan Afghanofobia, yang kemudian menjadi kata kunci yang dimainkan oleh poros kejahatan imperium global, dan ternyata gagal. Iranisme secara sederhana diartikan sebagai penguatan rasa nasionalisme ke-Iran-an, sedangkan Afghanophobia bermakna sikap anti terhadap warga Afghanistan.

Kekalahan kolonialisme di Afghanistan, dengan keluarnya Amerika Serikat dan Inggris, menjadi salah satu motivasi paling efektif yang digunakan oleh badan intelijen Barat untuk menciptakan ketidakamanan dan ketidakstabilan di beberapa negara. Tujuannya adalah menciptakan krisis, terutama antara Iran dan Afghanistan, dengan target akhir membuktikan kepada dunia bahwa kawasan Muslim pada dasarnya selalu berhadapan dengan problem ketidakstabilan. Dihubungkan dengan mazhab yang dianut oleh mayoritas warga Iran dan Afghanistan, kunci utama dari isu ini terletak pada perselisihan antara Syiah dan Sunni.

Hampir semua kebijakan AS dan sekutunya selalu berorientasi kepada Zionis yang menargetkan ketidakamanan serta lenyapnya perdamaian dan ketenangan di Iran dan Afghanistan. AS, Inggris, dan kaum pendukung demokrasi liberal memulai perang lunak baru di media, terutama di dunia maya dengan sandi “Besarkan perselisihan, maka engkau dapat memegang kontrol”.

Sayangnya, dalam beberapa waktu terakhir ini, di dalam dan di luar Iran sendiri ada sejumlah pihak yang ikut melengkapi potongan puzzle Inggris – Zionis ini, dan tanpa keraguan sedikitpun, ikut mempraktikkan demagogi anti Iran dan anti Afghanistan. Pihak-pihak ini mengikuti rencana Barat dan Zionis melalui satu komando dalam topik etika, keamanan, ekonomi, dan politik yang disusun dengan cara yang matang.

Dalam beberapa waktu terakhir ini, muncul publikasi klip dan berita palsu (yang terkadang merupakan berita usang) tentang invasi imigran Afghanistan ke Iran, publikasi berita hoaks tentang penangkapan sekelompok warga negara Afghanistan, serta penciptaan desas-desus tentang pembunuhan, pemerkosaan dan penjarahan oleh warga negara Afghanistan di berbagai bagian negara Iran. Semua ini adalah bagian dari propaganda dalam konteks Afghanophobia tersebut.

Jika merujuk kepada sejarah, menciptakan perselisihan etnis dan agama selama bertahun-tahun telah menjadi salah satu alat paling efektif yang digunakan oleh badan intelijen Barat. Pemimpin Iran Ayatollah Khamanei sendiri telah memperingatkan semua pihak tentang peran jahat Inggris dan Zionis dalam isu ini. Beliau mengatakan, terdapat sebuah konspirasi yang dalam dan berbahaya -gaya lama- untuk menciptakan perselisihan antara madzhab-madzhab Islam; dan saat ini mengangkat isu Syiah dan Sunni di dunia.

Pada dasarnya, upaya menciptakan perselisihan ini tentu tidak dikhususkan untuk Syiah dan Sunni saja, melainkan juga mencakup perselisihan internal di antara masing-masing mazhab tersebut, yang memang memiliki perbedaan dari sisi fikih dan teologi. Strategi imperium dari dulu hingga kini tak pernah berubah. Mereka ingin agar berbagai kelompok di dalam Islam itu saling berhadapan, bergulat satu sama lain, serta saling menyalahkan. Inilah yang diinginkan musuh, dan Inggris, khususnya, sangat mahir dalam hal ini; sangat berpengalaman. Selama ratusan tahun, mereka telah bekerja di bidang ini. Mereka mengerti betul, tahu kelemahan-kelemahan kita. Mereka fokus dalam hal itu dalam rangka menciptakan perselisihan. Saat ini pun mereka masih sangat sibuk bekerja.

Zaman kolonialisme fisik, imperialis paling utama adalah Inggris. Di masa sekarang, Inggris masih menjadi salah satu kekuatan utama imperium. Tapi, saat ini, yang menjalankan agenda-agenda post-imperialisme bukan hanya Inggris, melainkan juga dinas intelijen dan keamanan Israel, AS, dan sekutu-sekutunya.

Ketika operasi ditujukan di wilayah Iran, agenda yang digelar adalah penguatan Iranisme serta sentimen Afghanophobia. Di sisi lain, ketika agendanya ditujukan kepada Afghanistan, yang mereka kejar adalah merebaknya Iranophobia di Afghanistan. Jadi, mereka berupaya memunculkan Iranophobia di Afghanistan dan Afghanophobia di Iran.

Faktanya, upaya tersebut membentur kegagalan. Kegagalan mereka itu berakar dari kurangnya pengetahuan mereka tentang masa lalu kedua negara dalam perang melawan kolonialisme. Sejarah membuktikan bahwa persahabatan masyarakat di negeri ini sudah terjalin sejak zaman kuno. Sekarang muncul pertanyaan, apakah mereka tidak mendengar jeritan pria Afghanistan yang tertindas dan tak berdaya di sebelah tubuh putrinya yang tak bernyawa setelah ledakan teroris di depan sekolah? Orang-orang Iran mendengarnya dengan baik, namun dunia menutup mata dan telinga. Mengapa? Karena mereka pada dasarnya tuli dan bisu. Dunia tidak akan mengucapkan sebuah kata atau menerbitkan sebuah gambar bila tidak sesuai dengan keinginan ‘sang tuan’!

Afghanistan harus ditunjukkan pada hati pria yang bersemangat dan mata seorang anak pemberani. Ini adalah kisah generasi yang terbakar dan meleleh satu demi satu. Sejarah kejayaan Afghanistan menjadi saksi hadirnya kaum Mujahidin pekerja keras dan pemberani yang berdiri di bawah panji Islam, demi menjaga nilai-nilai Islam dan keutuhan wilayah mereka. Tidak diragukan lagi, front perlawanan Afghanistan bukanlah gerakan yang baru muncul.

Di sisi lain, dari Iran yang bermazhab Ahlul Bait, gelombang perlawanan terhadap imperium juga tak pernah berhenti, dan akan terus bergelora. Front-front perlawanan terus dibentuk dengan pandangan idealis, lintas batas, dan kini, makin menguat dengan pusaran pada Martir Soleimani.

*Konselor Kebudayaan Kedubes Iran – Jakarta

DISKUSI: