Invasi AS di Afghanistan Masuki Tahun Ke-20

0
83

Washington, LiputanIslam.com–Invasi yang dipimpin AS di Afghanistan telah memasuki tahun ke-20, meskipun proses perdamaian telah dimulai sejak September setelah Washington menandatangani perjanjian perdamaian bersyarat dengan Taliban pada Februari lalu.

Sembilan belas tahun lalu, tepatnya pada 7 Oktober 2001, sekelompok tentara Amerika dikirim ke Afghanistan dalam apa yang disebut sebagai misi ‘War on Terror’ pasca 9/11.

Pada tahun 2010, Wikileaks dan Julian Assange mengungkapkan kekejaman invasi AS di Afghanistan di era George W. Bush. Kini, Assange menjadi menjadi tahanan politik paling terkemuka di Barat.

Kemudian, pemerintahan Barack Obama gagal merahasiakan “Afghanistan Papers” yang membuktikan bahwa “rakyat Amerika terus-menerus dibohongi” tentang perang di Afghanistan.

Afghanistan Papers mengungkapkan bahwa “proyek tunggal terbesar Washington adalah pengembangan korupsi massal”. Sejumlah uang disalurkan ke kontraktor yang terkait AS untuk proyek infrastruktur yang tidak dibutuhkan. Sementara itu, sejumlah institusi independen memperkirakan AS telah menghabiskan dana $3 triliun untuk perang tersebut meskipun dilanda Resesi Hebat sejak 2007.

Menurut analisis dari jurnalis Ramin Mazaheri dalam artikelnya di Press TV pada Kamis (8/10), AS tidak memiliki strategi keluar dari Afghanistan, seperti yang terjadi di Irak. Hal ini menyebabkan banyak orang meragukan jika Washington memang berniat mengakhiri perang imperialisme tersebut. Dalam satu dekade terakhir saja, setidaknya 100.000 warga sipil Afghanistan menjadi korban perang, dengan 40% di antaranya adalah wanita atau anak-anak.

Invasi ini telah berlangsung lama sehingga banyak tentara Amerika yang bertempur di Afghanistan sekarang bahkan belum lahir ketika perisitiwa 9/11 terjadi.

Sembilan belas tahun yang lalu, hanya sedikit orang yang memprediksikan hal itu. Namun yang jelas, invasi AS di Afghanistan telah mengorbankan kehidupan orang-orang tak bersalah di Afghanistan secara tidak adil. (ra/presstv)

DISKUSI: