Intelijen AS, Israel, Eropa, dan Arab Bekerja Sama dalam Teror Komandan Top Hizbullah

0
140

Beirut,LiputanIslam.com-Imad Faiz Mughniyah adalah seorang komandan militer Hizbullah yang gugur pada 12 Februari 2008 dalam sebuah ledakan di Damaskus. “Menghunjam seperti pedang, dan menghilang seperti hantu” adalah ungkapan yang digunakan Jenderal Qassem Soleimani untuk menggambarkan kehebatan pria yang juga dikenal dengan sebutan Hajj Ridhwan ini.

Rai al-Youm memberitakan sejumlah informasi baru yang ada dalam buku karya jurnalis Israel, Yossi Melman. Analis militer di harian Haaretz ini mengungkap sejumlah informasi, seperti keterlibatan sejumlah negara, termasuk beberapa negara Arab, dalam perencanaan dan penghimpunan informasi untuk aksi teror atas orang yang dideskripsikan sebagai “otak operasi-operasi Hizbullah” tersebut.

Melman dalam tulisannya di Haaretz mengutip sebuah bab dari bukunya, yang ditulis berdasarkan informasi dari forum-forum keamanan di Tel Aviv. Menurut Melman, Mughniyah adalah target terpenting untuk disingkirkan Israel, bahkan melebihi Sekjen Hizbullah, Hasan Nasrallah. Mughniyah menjadi target nomor wahid Tel Aviv, sebab ia adalah aktor di balik operasi-operasi komando yang telah mempermalukan Rezim Zionis.

Buku Melman menyebut Mughniyah sebagai orang yang sangat berhati-hati dan mencurigai segala hal. Lebih dari itu, ia juga sangat ulung dalam meloloskan diri dan bersembunyi dari agen-agen intelijen yang memburunya.

Melman tidak secara langsung mengakui bahwa Tel Aviv adalah eksekutor teror terhadap Mughniyah. Namun orang yang membaca bab ini dalam bukunya akan yakin bahwa Israel bertanggung jawab atas teror tersebut.

Hal ini dikarenakan Melman menyatakan bahwa instruksi teror Mughniyah diberikan langsung oleh Direktur Mossad saat itu, Meir Dagan, menyusul lampu hijau yang diterima PM Israel, Ehud Olmert dari Presiden AS, George W. Bush dan Direktur CIA. Melman juga menulis bahwa peran CIA dalam operasi ini hanya bersifat sekunder.

Dalam buku ini disebutkan bahwa setelah aksi teror dilaksanakan, Dagan menghubungi Olmert via telepon, yang saat itu tengah berada di pesawat menuju Washington. Dagan mengatakan, ”Orang Arab itu sudah mati.”

“Dua orang dari para Perdana Menteri Israel, yaitu Ariel Sharon dan Olmert, telah memberi izin kepada para Direktur Mossad, Efraim Halevy untuk meneror Mughniyah. Dinas-dinas intelijen yang terlibat aktif dalam mengumpulkan informasi berasal dari AS, Prancis, Inggris, Yordania, Mesir, dan Saudi. Masing-masing dari mereka berperan dalam penghimpunan dan pertukaran informasi untuk meneror Mughniyah,” ungkap Melman. (af/fars)

DISKUSI: