Ini Dampak Lockdown Terhadap Pengungsi Suriah

0
134

Beirut, LiputanIslam.com–Ahmad al-Mostafa (28), tidak bisa membeli susu untuk anak bayinya. Sebagai seorang pengungsi Suriah yang tinggal di Lebanon, ia sudah kesulitan memberi makan keluarganya akibat krisis ekonomi sejak tahun lalu. Namun, kini akibat kebijakan lockdown Covid-19, situasinya semakin buruk dari biasanya.

“Tidak ada yang mau mempekerjakan kami lagi,” kata wanita yang dipecat dari restorannya beberapa bulan yang lalu. Dia pun akhirnya mengumpulkan ratusan dolar utang di mini market lokal untuk membeli makanan.

“Kami takut besok,” katanya. “Kami tidak tahu apa yang akan terjadi pada kami.”

Nasib Mustafa merefleksikan situasi dari 5,6 juta pengungsi Suriah di Lebanon, Yordania, dan Turki. Banyak yang tidak bisa bekerja dan kesulitan membeli bahan pokok karena harga-harga melonjak. Ada juga yang bergantung pada bantuan tetangga yang mau menyumbangkan susu secara cuma-cuma.

Menurut Mireille Girard, perwakilan badan pengungsi UNHCR di Lebanon, banyak pengungsi Suriah mangaku lebih takut akan kelaparan daripada virus Covid-19. Dalam sebuah survei bulan lalu, UNHCR menemukan 70% pengungsi menderita kelaparan, terutama di kamp-kamp penuh sesak yang bergantung pada bantuan kemanusiaan.

Di Yordania, kamp Zaatari menjadi rumah bagi 80.000 pengungsi Suriah. Kamp itu telah ditutup oleh pihak berwenang selama dua bulan kebijakan lockdown. Banyak pengungsi yang dulu bekerja di pertanian setiap hari, kini tidak bisa lagi melakukannya.

Abdullah Aba Zaid, yang biasa bekerja memetik tomat, kini tidak memiliki penghasilan selama dua bulan.

“Selama 10 hari terakhir, saya belum mendapatkan satu sen pun di rumah bahkan untuk membeli roti. Saya meminjam dari sana-sini,” keluhnya. “Semua orang menunggu belas kasihan Tuhan … berharap semuanya akan membaik.”

Meskipun bisnis kembali dibuka setelah pemerintah melonggarkan lockdown pada pekan ini, PHK terus meningkat. Beberapa pengungsi Suriah bahkan mengaku akumulasi utang mereka memaksa mereka menjual kupon bantuan makanan AS untuk membayar sewa dan barang-barang pokok lain yang lebih penting. (ra/presstv)

DISKUSI: