Hagia Sophia Jadi Masjid, Akankah Picu Perpecahan Antar Agama?

0
131

LiputanIslam.com—Baru-baru ini, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memutuskan untuk mengubah status museum Hagia Sophia menjadi masjid. Keputusan besar atas ikon Istambul ini pun menuai kritik internasional, terutama dari para pemuka agama Kristen. Akankah keputusan ini malah memicu perpecahan antar agama?

Bangunan kolosal Hagia Sophia dibangun pada abad keenam sebagai katedral Kristen, kemudian diubah menjadi masjid oleh Ottoman ketika mereka menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453. Pada tahun 1934, pemerintah sekuler yang dipimpin oleh Mustafa Kemal Ataturk, bapak pendiri negara Turki modern, memutuskan untuk menjadikannya museum.

Pada tanggal 10 Juli lalu, pengadilan Turki membatalkan status museum itu. Kemudian, Presiden Recep Tayyip Erdogan pun mengeluarkan dekrit untuk menjadikan Situs Warisan Dunia UNESCO itu sebagai masjid. Diharapkan, azan pertama akan berkumandang dari Hagia Sophia pada 24 Juli mendatang.

Akibat keputusan ini, para pemuka agama Kristen mengungkapkan kekecewaan, salah satunya Paus Fransiskus.

“Saya sedang memikirkan Hagia Sophia. Saya sangat tertekan,” ucap Paus dalam sebuah pernyataan singkat dalam ibadah hari Minggu.

Sebelumnya, Dewan Gereja Dunia yang terdiri dari berbagai institusi Protestan, Ortodoks, dan Anglikan, juga menyatakan “kesedihan dan kekecewaan” atas keputusan tersebut. Menurut mereka Hagia Sophia telah menjadi “tempat keterbukaan, pertemuan dan inspirasi untuk orang-orang dari semua bangsa,”

Sementara itu, Gereja Ortodoks Rusia mengkritik pemerintah Turki karena “bermain politik” dalam mengubah status Hagia Sophia menjadi masjid.

Segala kecaman ini punya alasan yang kuat. Hagia Sophia sebelumnya merupakan simbol keharmonisan antar agama Kristen dan Islam. Di sana, mosaik Bunda Maria yang sedang menggendong bayi Yesus diapit oleh kaligrafi Allah dan Muhammad tepat di atas mimbar. Arsitektur khas ini telah menembus batas-batas agama dan mendorong toleransi antar umat.

Namun, sebagaimana dilaporkan Greek City Times, kini pemerintah Turki berencana menutup gambar Yesus, Bunda Maria, dan santo di Hagia Sophia dengan teknologi dan pencahayaan khusus. Karpet akan digelar di lantai dan diterangi sehingga menggelapkan ruangan agar gambar tokoh Kristiani tidak terlihat. Hal tersebut dilakukan agar umat Muslim dapat beribadah dengan tenang di sana.

Terlepas dari kecurigaan adanya “permainan politik” dalam pengubahan status ini seperti yang diungkapkan oleh Gereja Ortodoks Rusia, keputusan ini secara tak lengsung telah mencemarkan nama Islam sebagai agama yang suka “memaksa” dan tidak toleran. Ungkapan kekecewaan Paus Fransiskus dan Dewan Gereja Dunia adalah indikasi awal atas potensi perpecahan yang mungkin saja terjadi. Tentu langkah pemerintah Turki ini patut disayangkan ketika persatuan dan keharmonisan sedang sangat kita perlukan di tengah krisis pandemi global saat ini. (ra/)

DISKUSI: