Gelombang Demo Pecah di Tanah Pendudukan, Tanda Perang Saudara di Israel?

0
123

TelAviv,LiputanIslam.com-Media-media Zionis memberitakan bahwa puluhan ribu warga Israel pada Sabtu malam (14/1) turun ke jalanan Tel Aviv, Jerusalem, dan Haifa sebagai bentuk penentangan terhadap pemerintahan pimpinan Benyamin Netanyahu.

Harian Yedioth Ahronoth memberitakan, 50 ribu orang turun di Habima Square di Tel Aviv, sekitar 2 ribu orang di Haifa, 1.500 orang di depan rumah Presiden Israel Isaac Hertzog di Jeusalem, dan ratusan orang di depan rumah Menteri Kehakiman Israel Yariv Levin.

Setelah laporan ini, polisi Israel memperkirakan bahwa sekitar 80 ribu orang berkumpul di Habima Square, yang merupakan titik utama unjuk rasa. Namun Radio Tentara Israel mengumumkan, sejumlah para pendemo penentang Kabinet Netanyahu di Tel Aviv mencapai 100 ribu orang.

Ini merupakan demo terbesar yang pernah disaksikan Rezim Zionis sejak berkuasanya Netanyahu pada 29 Desember silam. Yedioth Ahronoth mengabarkan kemacetan parah yang terjadi di jalanan Tel Aviv akibat demo dan menyatakan, sekitar seribu aparat keamanan bertugas menjaga jalannya demo.

Sejumlah politisi dan mantan pejabat Israel juga terlihat di tengah para pendemo, seperti mantan Menteri Perang dan anggota Knessett saat ini, Benny Gantz, anggota Knessett Yair Golan, mantan PM Ehud Barak, dan mantan Menlu Tzipi Livni.

Sebelum ini, Golan pada hari Selasa 10 Januari lalu di laman Twitter-nya mengecam keras Netanyahu.

Golan menyerukan penutupan jalan dan toko-toko, serta mendesak diumumkannya pembangkangan sipil di seluruh Tanah Pendudukan. Golan berkata bahwa warga Israel harus berdemo menentang Netanyahu selama beberapa pekan.

Anggota Parlemen Israel ini menekankan, warga Zionis harus melawan Kabinet Netanyahu dan tidak cukup hanya melakukan unjuk rasa.

Gantz menyatakan bahwa tindakan-tindakan Kabinet Netanyahu akan menyeret Israel menuju perang saudara.

Mantan PM Israel Yair Lapid juga melancarkan serangan verbal kepada Netanyahu. Menurutnya, rencana Menteri Kehakiman Yariv Levin akan mengurangi wewenang Mahkamah Agung; lembaga yang merupakan perangkat hukum tertinggi Rezim Zionis.

Netanyahu disebut Lapid telah melengkapi “kudeta ambisiusnya” dengan tindakan-tindakan ini, serta menambahkan,”Jika perbaikan-perbaikan (yang diusulkan Levin) dilaksanakan, Aliansi (pimpinan Netanyahu) akan bisa menghukum dan membungkam setiap orang yang tidak mematuhinya.”

Lapid berpendapat, tindakan ini akan mengubah para hakim menjadi politisi dan penasihat hukum (untuk Kabinet) menjadi boneka. “Siapa yang akan menanggung konsekuensi dari semua yang mereka lakukan ini?”kata Lapid. (af/fars)

 

DISKUSI: