Gedung Putih: Ujung Unjuk Rasa di Iran Tak Bisa Diprediksi

0
169

Washington,LiputanIslam.com-Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih, Jake Sullivan mengumumkan bahwa Gedung Putih tidak bisa memprediksi hasil unjuk rasa di Iran.

“Kami tidak punya prediksi apa pun soal masalah ini akan sampai ke mana,” ujar Sullivan saat ditanya tentang hasil demo di Iran.

“Satu-satunya hal yang bisa kita kerjakan adalah berpegang kepada prinsip dan berusaha menunjukkan dengan jelas kepada siapa kita berpihak,” kata Sullivan.

Berbarengan dengan kerusuhan di Iran dan pertukaran pesan antara Pemerintahan Joe Biden dan Pemerintahan Ebrahim Raisi, kelompok radikal di AS berupaya mengubah jalur perundingan dan diplomasi serta meningkatkan tekanan.

Situs Hill, yang dikenal dekat dengan Kongres, beberapa waktu lalu mengklaim bahwa sudah tiba saatnya bagi negara-negara Barat untuk meninggalkan meja perundingan, mengumumkan kematian JCPOA, dan memulai lagi kebijakan Tekanan Maksimum atas Iran.

Padahal para politisi AS dan dunia sudah berulang kali mengakui bahwa kebijakan yang dimulai di era Donald Trump ini sudah terbukti gagal menundukkan Iran.

Trump meluncurkan apa yang dia sebut kebijakan “Tekanan Maksimum” terhadap Iran pada 2018 setelah dia menarik AS keluar dari perjanjian Nuklir Iran, mengklaim dia bisa “mendapatkan kesepakatan yang lebih baik” daripada yang dicapai di bawah pendahulunya, Barack Obama.

Mantan presiden Amerika itu menyatakan bahwa dia bermaksud memaksa Iran untuk merundingkan kesepakatan yang akan membatasi program rudal balistik Republik Islam dan pengaruhnya di wilayahnya sendiri.

Iran dengan tegas menolak untuk menegosiasikan “kesepakatan Trump” dan menolak seruannya yang berulang-ulang untuk mengadakan pembicaraan di tingkat mana pun. Ketika ketegangan melonjak ke level tertinggi dalam beberapa dekade dengan pengetatan sanksi AS, Iran pada 2019 mulai mengurangi kewajiban nuklirnya berdasarkan kesepakatan sesuai hak kontraktualnya. (af/alalam)

DISKUSI: