Tehran, LiputanIslam–Iran memperkirakan ekspor baja mereka akan menyentuh 10 juta ton pada tahun ini hingga 21 Maret 2020 meski mengalami banyak sanksi yang dijatuhkan oleh AS.

Menurut kepala perusahaan Iran terbesar di sektor logam IMIDRO, Khodadad Gharibpour, ekspor ini akan menghasilkan $4-5 miliar bagi Iran yang tengah kesulitan di tengah upaya agresif AS untuk mendorong pendapatan minyaknya ke nol.

Awal bulan ini, pemerintah AS memberlakukan sanksi baru terhadap sektor logam Iran yang menargetkan industri konstruksi, manufaktur, tekstil, pertambangan, aluminium, tembaga, besi, dan baja.

Sebelumnya, AS sudah menjatuhkan sanksi yang berisi peringatan kepada “negara-negara lain bahwa perizinan baja Iran dan logam lainnya masuk ke pelabuhan [mereka] tidak akan lagi ditoleransi,” demikian kata Presiden AS Donald Trump dalam sebuah pernyataan.

Kali ini, pemerintah AS melarang ekspor bahan pembuatan baja oleh negara lain ke Iran. Bahan tersebut adalah di antaranya elektroda grafit dan needle coke.

Namun, Menteri Perindustrian, Tambang dan Perdagangan Iran, Reza Rahmani, menyatakan bahwa produsen Iran sudah punya teknologi untuk membuat elektroda grafit.

“Tujuan dari sanksi keras Amerika terhadap industri logam adalah untuk menghentikan ekspor Iran, tetapi ini tidak berhasil secara praktis dan kami malah mengalami peningkatan ekspor,” sebut Gharibpour pada hari Selasa (21/1).

Selama tahun versi Iran saat ini, katanya, ekspor National Iranian Copper Industries Co dan Mobarakeh Steel Company telah meningkat lebih dari $1 miliar. (ra/presstv)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*