Dosen AS: Paman Sam di Ambang Perang Saudara

0
46

Washington,LiputanIslam.com-Aksi kekerasan yang terjadi di kota Buffalo di Negara Bagian New York, yang dilakukan Payton Gendron beberapa waktu lalu, telah memicu kehebohan.

Kendati tewasnya warga AS akibat aksi penembakan sudah menjadi berita harian, namun esensi penembakan di Buffalo berbeda dengan aksi-aksi harian serupa dan tidak mirip dengan sejumlah penembakan yang terjadi baru-baru ini di AS.

Gendron (18 tahun) menyebut dirinya seorang fasis dan pendukung supremasi kulit putih. Demi melaksanakan misinya, ia sengaja mencari sebuah kota yang mayoritas penduduknya adalah warga kulit hitam. Menurut laporan, dari 13 korban yang dibunuh Gendron, 11 di antara mereka adalah warga kulit hitam.

Polisi AS menyatakan, Gendron mengemudi sejauh 320 km dari kediamannya ke kota Buffalo dan melakukan aksinya di sana.

Menurut Wali Kota Buffalo, tujuan Gendron dari perjalanannya adalah mencabut nyawa tiap orang kulit hitam sebisanya. Dia memiliki sebuah catatan pribadi setebal 180 halaman. Dalam catatan pribadi itu, ia meminta orang-orang kulit putih untuk bangkit melawan kaum kulit hitam dan kulit berwarna AS serta membunuh mereka.

Dosen sejarah di Universitas Washington DC, Donald Earl Collins, dalam tulisannya di al-Jazeera menyinggung insiden-insiden termutakhir di AS dan memperingatkan bahwa negara ini tengah mengarah ke sebuah perang saudara.

“AS saat ini sudah mendekati kondisi Perang Saudara yang pernah terjadi di tahun 1861, jauh lebih dekat dari apa yang ingin diakui oleh sebagian besar penduduk negara ini”, tulis Collins.

Menurut Collins, orang-orang seperti Gendron, Dylan Roof, Patrick Wood Crusius, dan Robert Bowers, yang akhir-akhir ini melakukan aksi penembakan rasis, secara terbuka meyakini mereka sudah terlibat dalam semacam perang saudara.

“Mereka ini, dan banyak orang lain, secara kolektif percaya percaya ‘Great Replacement’”, tulis Collins.

Orang-orang ini berusaha membunuh warga kulit hitam saat beribadah di gereja dan warga kulit berwarna saat berbelanja.

Melalui aksi kriminal ini, mereka berniat menyatakan bahwa kaum kulit putih telah terjun untuk memerangi perubahan sosial (dominasi kulit hitam dan kulit berwarna di AS). Bagi mereka, eksistensi kaum kulit putih, peradaban Barat, dan gaya hidup AS tengah berada dalam ancaman.

“Gendron, yang baru-baru ini melakukan aksi penembakan di Buffalo, telah secara tepat mendefinisikan dirinya sebagai fasis. Ia menganggap dirinya dan para sejawatnya dipersatukan oleh fasisme, sebab ini adalah satu-satunya ideologi politik yang menyatukan kaum kulit putih untuk menghadapi para calon pengganti mereka di masa mendatang,”tulis Collins. (af/fars)

DISKUSI: