Di Bawah Biden, Komitmen AS terhadap Israel Tetap Teguh

0
343

Washington, LiputanIslam.com –Sebagaimana yang sudah diduga sebelumnya, kebijakan AS terhadap AS dan berbagai isu krusial dunia Islam lainnya, tidak berubah, meskipun rezim sudah berganti dari Trump kepada Biden. Penasihat Keamanan Nasional AS (National Security Advisor, NSA), Jake Sullivan, menyatakan bahwa pemimpin baru AS, Joe Biden, memiliki komitmen yang teguh kepada rezim Israel. Juru bicara NSC Emily Horne merilis pernyataan hari Minggu (24/1/2021) tentang panggilan telepon antara Sullivan dan penasihat keamanan nasional Israel Meir Ben Shabbat sehari sebelumnya (Sabtu, 23 Januari).

“Mr. Sullivan menegaskan kembali komitmen teguh Presiden Biden untuk keamanan Israel dan menyatakan penghargaan atas kontribusi Ben Shabbat untuk kemitraan bilateral kami, ” demikian disampaikan Horne seperti dilansir Presstv. “Mr. Sullivan mengonfirmasi bahwa Amerika Serikat akan berkonsultasi erat dengan Israel tentang semua masalah keamanan regional.”

Isu Panas Nuklir Iran

Berbagai analisis menyebutkan bahwa Iran tetap menjadi salah satu subjek utama dan isu paling panas dalam agenda percakapan telepon para pejabat AS dan Israel. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan mengirim kepala Mossad Yossi Cohen untuk bertemu dengan pejabat senior AS dalam beberapa minggu mendatang, dengan tugas membicarakan masalah Iran, khususnya terkait masa depan perjanjian Rencana Aksi Komprehensif Bersama (Joint Comprehensive Plan of Action, JCPOA) terkait nuklir Iran.

Di bawah mantan Presiden Donald Trump, AS secara sepihak menyatakan keluar dari kesepakatan nuklir yang didukung secara internasional. Keputusan sepihak Trump itu telah memicu peningkatan ketegangan regional. Negara-negara penanda tangan JCPOA, yaitu Inggris, Perancis, Jerman, Rusia, dan China, menyayangkan keputusan sepihak AS tersebut. Akan tetapi, keputusan Trump tersebut malah didukung oleh Israel.

Sementara itu, seorang diplomat tinggi Iran mengatakan hari Sabtu (23/1) bahwa JCPOA adalah “format yang tepat” untuk pembicaraan.  Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Politik Abbas Araqchi mengatakan kepada surat kabar harian Italia la Repubblica mengatakan bahwa Teheran tidak tertarik untuk melakukan kontak langsung dengan AS, dan tidak melihatnya sebagai alternatif penyelesaian kekisruhan ini.

“Kami telah bernegosiasi dengan itikad baik, dan menerapkan JCPOA dengan itikad baik. Sekarang tergantung pada pemerintahan baru AS untuk memperbaiki kesalahan pendahulunya. AS adalah pihak yang telah membatalkan perjanjian: terserah mereka untuk memutuskan apa yang harus dilakukan,” kata Araqchi. (os/Presstv)

DISKUSI: