Demonstrasi Anti-Rasisme dan Perusakan Patung Winston Churchill

0
150

London, LiputanIslam.com—Gelombang demonstrasi anti-rasisme di AS merambah hingga Inggris. Dalam sebuah aksi protes di London pada Minggu (14/6), sebuah patung mantan Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill, dirusak dan disemprot grafiti. Perusakan ini dlakukan karena Churchill dituduh oleh para demonstran sebagai tokoh yang rasis.

Perusakan patung ini direspon dengan cara yang berbeda dari berbagai pihak. Ada yang menganggap Churchill sebagai pahlawan Perang Dunia 2, tetapi tak sedikit yang mempertanyakan sisi gelap lain dari hidupnya.

 

Siapakah Winston Churchill?

Churchill lahir pada 30 November 1874 di Oxfordshire, Inggris. Ia adalah seorang politisi, perwira militer, dan penulis yang menjabat sebagai perdana menteri Inggris dari 1940 hingga 1945 dan dari 1951 hingga 1955. Setelah menjadi perdana menteri di 1940, Churchill membantu memimpin strategi Sekutu yang sukses selama Perang Dunia II.

Pahlawan bagi Zionis dan Israel

Meski sebagian orang memuja Churchill sebagai pahlawan Perang Dunia 2, ia merupakan tokoh kontroversial yang diwarnai sisi buruk. Salah satu sisi buruk tersebut adalah kontribusinya dalam mendirikan negara Israel dan merampas tanah Palestina.

Selama ini, dukungan Inggris terhadap Israel lebih banyak dikaitkan dengan Arthur James Balfour yang namanya ditaruh dalam Deklarasi Balfour. Deklarasi ini merepresentasikan dukungan Inggris untuk “rumah nasional Yahudi” setelah berakhirnya Perang Dunia I. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa Winston Churchill lebih banyak berkontribusi atas pendirian negara Israel daripada Arthur Balfour. Pidatonya di House of Commons pada tahun 1922 disebut-sebut telah menyelamatkan “rumah nasional Yahudi” dari kepunahan.

Pada tahun 1922, dua pertiga dari House of Lords sempat menolak perjanjian Balfour dengan menyebut pembentukan negara Israel tidak dapat diterima berdasarkan “sentimen dan keinginan sebagian besar rakyat Palestina.” Lord Sydenham, mantan administrator kolonial, menyebut bahwa orang-orang Arab “tidak akan pernah berkeberatan dengan pendirian koloni orang Yahudi yang dipilih dengan baik; tetapi, alih-alih itu, kita telah menjatuhkan 25.000 orang di pantai Palestina…. Apa yang telah kita lakukan adalah … memulai luka yang buruk di Timur, dan tidak ada yang tahu seberapa jauh luka itu akan meluas.”

Dalam sebuah pertemuan di House of Commons pada 4 Juli 1922, Churchill mencoba membalikkan keadaan dan meyakinkan para pejabat yang ragu. Ia mengutip kata-kata dari pejabat Konservatif, Sir John Butcher: “Saya percaya hari ini tidak jauh dari hari ketika orang-orang Yahudi mungkin akan bebas untuk kembali ke tempat kelahiran suci ras mereka, dan untuk mendirikan kembali rumah leluhur mereka yang hebat…”

“Saya akan melakukan semua yang saya bisa lakukan untuk memajukan pandangan Zionis, untuk memungkinkan orang Yahudi memiliki tanah mereka sendiri,” tuturnya.

Sejarawan Paul Johnson menyebut pidato tersebut sebagai “salah satu pidato terhebat [Churchill]” karena telah menghasilkan efek yang diinginkan. House of Commons pun memberikan suara 292-35 untuk melanjutkan kebijakan Balfour di Palestina. Johnson menilai pidato itu sebagai titik balik.

“Tanpa Churchill, sangat kecil kemungkinan Israel akan pernah ada,” simpulnya.

Kemudian, masih pada tahun yang sama, Churchill menolak permintaan Raja Arab Saudi, Ibn Saud, untuk menghentikan orang-orang Yahudi menetap di Palestina. Dia pun mengusulkan kompromi yang memungkinkan migrasi Yahudi berdasarkan kapasitas ekonomi Palestina. Akibatnya, 400.000 orang Yahudi melarikan diri dari Eropa sebelum Perang Dunia II. Pada 1939, Churchill menentang upaya pemerintah Inggris untuk memperlambat migrasi Yahudi ke Palestina.

Setelah berdirinya negara Israel pada 1948, isi pidato-pidato Churchill konsisten mendukung mereka. Pada hari ulang tahunnya yang ke-75, ia menerima pesan dari Perdana Menteri Israel David Ben-Gurion: “Kata-kata dan perbuatan Anda terukir dalam sejarah kemanusiaan. Orang yang melahirkan putra seperti Anda [pastilah] bahagia.” (ra)

Sumber: How Winston Churchill Preserved the Dream of Israel: July 4, 1922

DISKUSI: