Dampak Krisis Minyak dan Wabah Corona atas Kepemimpinan MBS

0
110

Riyadh, LiputanIslam.com—Wabah corona dan kejatuhan harga minyak yang dramatis telah berdampak buruk terhadap kepemimpinan Pangeran Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman (MBS).

Sebuah analisis dari badan think tank AS, The Soufan Center, memperlihatkan adanya implikasi yang mengerikan terhadap stabilitas di Arab Saudi. Namun, MBS sebagai sebagai pewaris takhta Saudi tampaknya menjadi orang yang paling menderita dalam krisis ini.

Menteri Keuangan Saudi Mohammed Al-Jadaan baru-baru ini mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Al-Arabiya bahwa kas anggaran pemerintah perlu “dipotong dalam-dalam” karena “Kerajaan belum pernah menyaksikan krisis separah ini selama beberapa dekade terakhir.”

Krisis ini berarti bahwa pemerintah Saudi harus mempertimbangkan program kesejahteraan sosial dan subsidi yang signifikan untuk para pemimpin suku yang telah mendukung keluarga kerajaan sejak puluhan tahun lalu. Namun, bantuan semacam ini tampaknya berada dalam bahaya karena pemerintah Saudi dan MBS sebagai kepala pejabat yang bertanggung jawab kini hanya mengantongi sedikit uang untuk disumbangkan.

“Erosi kontrak sosial antara penguasa dan yang dikuasai akan menyebabkan masalah serius, terutama kepada masyarakat suku,” tulis Colin Clarke, peneliti senior di Soufan.

Krisis minyak global juga merusak perekonomian Saudi karena ketergantungannya pada minyak sebagai pemasukan utama negara. Saudi memperoleh 87 persen pendapatan dari sektor minyak bumi.

Menurut Dana Moneter Internasional (IMF), minyak harus dijual di kisaran $76 per barel agar Arab Saudi dapat menyeimbangkan anggarannya tahun ini. Namun, patokan harga minyak mentah Brent tetap di bawah $30 per barel hingga pada Rabu (6/5) pagi.

Menurut Kepala International Affairs Department di Texas A&M University, Gregory Gause, krisis ekonomi ini tidak akan mengancam MBS sebagai pewaris takhta.

“…Selama ayahnya masih hidup, posisinya aman,” katanya. “Pertanyaannya adalah, ketika ayahnya meninggal, apakah akan ada koalisi dalam keluarga [kerajaan] yang mencoba untuk menghalangi kenaikannya menjadi raja?”

Menurut Gause, memang ada faktor  lain yang mempengaruhi masa depan MBS. Kerabat yang lebih tua dalam keluarga kerajaan itu tidak senang dengan perilakunya. Maka patut kita llihat apakah ketidaksukaan itu akan menyebabkan penggulingan MBS sebagai putera mahkota. (ra/presstv)

DISKUSI: