Cerita Ngeri Dibalik Penembakan Demonstran Palestina Oleh Tentara Israel

0
185

Gaza, LiputanIslam.com–Sekelompok penembak jitu militer Israel yang terlibat dalam penembakan demonstran damai Palestina di Jalur Gaza menceritakan kisah mengerikan di balik operasi genosida tersebut.

Media Israel, Haaretz, merilis isi wawancara dengan enam tentara penembak yang setuju menceritakan pengalaman mereka menembaki orang-orang Palestina tak bersalah.

Para penembak itu bertugas di aksi demonstrasi Great Return of Return yang berlangsung dari 30 Maret 2018 hingga Januari kemarin. Mereka biasanya ditempatkan di dekat pagar perbatasan yang memisahkan Gaza dan kawasan pendudukan.

Menurut data dari Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan, tentara Israel telah menembak mati 215 demonstran di sana. Kementerian Kesehatan Gaza sendiri melaporkan jumlah korban jiwa mencapai sekitar 310.

Enam tentara yang diwawancarai itu menyebut target tembakan mereka kebanyakan adalah anak muda dan biasanya ke arah lutut. Eden (nama samaran) mengaku berhasil memecahkan “rekor lutut” yang ditembak pada tanggal 14 Mei 2018, menjelang peringatan 70 tahun Hari Nakba yang bertepatan dengan relokasi kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem timur.

“Pada hari itu, kelompok kami memecahkan penembakan terbanyak, yaitu 42 target… Kami ingin menyelesaikan [misi ini] dengan perasaan bahwa kami telah melakukan sesuatu, bahwa kami bukan cuma penembak jitu dalam latihan saja. Jadi, setelah saya mendapat berhasil menembak beberapa, saya menyarankan teman saya untuk berganti posisi. Katanya [dia menembak] sekitar 28 lutut,” katanya.

Biasanya, para penembak jitu Israel bekerja berpasangan dengan orang lain sebagai “pelacak” yaitu yang tugas utamanya menyediakan data-data seperti jarak target, arah angin, dan lainnya.

Para tentara itu menenakan bahwa sasaran terbaik adalah lutut karena tidak akan mengeluarkan banyak darah. Itu berarti, mereka dianggap melakukan “pekerjaan bersih”.

“Kita tidak seharusnya melihat pendarahan hebat, karena di daerah lutut dan tulang tidak ada banyak kapiler (pembuluh darah). Jika kita melihat darah, itu bukan pertanda baik, karena itu berarti kita mungkin menembak terlalu tinggi. Skenario normalnya adalah menembak dan mematahkan tulang, dan yang terbaik mematahkan tempurung lutut,” kata seorang penembak bernama Itay.

Namun, tetap saja ada beberapa penembak yang sengaja membuat kesalahan dengan menembak lebih tinggi di atas lutut dan menimbulkan luka yang lebih mematikan kepada korban.

“Jika ada yang tidak sengaja mengenai arteri utama paha [bukan lutut]… ada kemungkinan dia memang ‘sengaja’ melakukan kesalahan atau dia tidak layak menjadi penembak jitu. Memang ada penembak, tidak banyak, yang ‘memilih’ untuk membuat kesalahan [menembak lebih tinggi]. Tetap saja, angkanya tidak tinggi. [Sebagai perbandingan], ada hari-hari kita bisa mengumpulkan 40 lutut di seluruh sektor. Itulah proporsinya,” kata Amir, penembak lain.

Haaretz juga mewawancarai seorang petugas kesehatan mental Israel bernama Tuly Flint. Ia menyebut ada banyak penembak jitu yang menderita stres dan trauma setelah operasi Great March of Return. Ia ingat salah satu unit militer Israel yang menembak demonstran di titik yang lebih tinggi dari lutut sehingga sang korban kehilangan nyawanya karena kehabisan darah.

“Tentara itu, seorang penembak jitu yang sangat berdedikasi untuk misinya, bercerita bagaimana ia menyaksikan demonstran itu mati kehabisan darah. Dia tidak bisa melupakan pria itu yang berteriak agar tidak ditinggalkan sendirian. Dia juga ingat dengan jelas peristiwa evakuasi dan para wanita yang menangisinya. Sejak saat itu, hanya kejadian itu yang ia pikirkan… Dia bilang, ‘aku tidak dikirim untuk membela, aku dikirim untuk membunuh. Ingatan tentang pacar si korban yang ia bunuh juga terus menghantuinya. Akibatnya,  dia kini putus dengan pacarnya sendiri selama dua tahun. [Dia bilang], dia tidak berhak memiliki [pacar],” tutur Flint.

Daniel, penembak jitu lain yang diwawancarai, juga bercerita tentang insiden salah bidik.

“Saya kenal seseorang yang membidik salah satu pemimpin demonstrasi yang berdiri di atas sebuah kotak dan mendesak orang-orang untuk terus bergerak maju. Tentara [Israel] membidik kakinya, tetapi pria itu bergerak… Peluru itu mengenai seorang gadis kecil sehingga meninggal di tempat. Tentara yang menembak itu [hidupnya] kacau hari ini. Dia diawasi setiap hari, karena kalau tidak, dia akan bunuh diri,” tuturnya. (ra/presstv)

 

DISKUSI: