Cerita Di Balik Intervensi Turki di Libya

0
256

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (kanan) bersama dengan pimpinan GNA Fayez al-Sarraj (kiri).

LiputanIslam.com—Konflik yang terjadi di Libya adalah konflik internal antara dua kubu. Kubu GNA yang dipimpin oleh Fayez al-Sarraj melawan kubu LNA yang dipimpin oleh Komandan Khalifa Haftar. Kenyataannya, pertarungan dua kubu ini juga melibatkan negara lain. Turki adalah pendukung kuat GNA yang rela mengirim militernya hanya untuk memastikan kontrol GNA atas Libya.

Intervensi Turki ke dalam konflik Libya tentu didasarkan atas kepentingannya sendiri. Berikut adalah penjelasan tentang motif di balik intervensi Turki di Libya yang penulis rangkum dari dw.com.

Dukungan penuh yang diberikan Turki terhadap GNA di Libya telah menempatkan Turki sebagai negara yang paling berpeluang untuk mengisi kontrak kerjasama bernilai milyaran dolar dengan Libya.

Awal bulan ini, Deputi Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah datang ke Tripoli untuk bertemu dengan para pejabar GNA dan membahas kerjasama di bidang konstruksi, energi, dan perbankan. Para pengusaha Turki berharap mereka bisa menjadi pemain kunci dalam proses rekonstruksi negara kaya minyak di Afrika itu.

Anas el-Gomati, direktur lembaga think tank pertama di Libya, Sadeq Institute, mengatakan bahwa bantuan besar yang telah diberikan oleh Turki kepada GNA yang saat itu berada pada posisi lemah telah membuat GNA berpikir untuk membalas kebaikan Turki dan menjadikannya sebagai mitra strategis.

Rekam Jejak Hubungan Turki dengan Libya

Para kontraktor Turki pertama kali beroperasi di Libya pada tahun 1972. Mereka adalah pemain utama di Libya, sebelum terjadinya perang. Kepala Asosiasi Kontraktor Turki, Mithat Yenigun, menyebut perusahaan-perusahaan Turki mendapatkan keuntungan dari kerjasama itu.

Sejak 1972, berbagai perusahaan Turki yang beroperasi di Libya telah menandatangani kontrak senilai USD 40 Milyar di sektro konstruksi dan tampaknya angka ini telah mengalami peningkatan.

“Sayangnya, Libya hancur. Padahal ada peluang bisnis konstruksi yang sangat besar di negara itu. Saya perkirakan nilainya bisa mencapai USD 50 milyar,” ucap Yenigun.

Karena rekam jejaknya di Libya yang begitu lama, Turki mendapatkan perhatian lebih dan berhasil memenangkan kontrak di sektor konstruksi. Dr.Karim Mezran menyebut perusahaan konstruksi Turki begitu dihargai oleh Libya, sebelum meletusnya perang pada tahun 2011.

“Semua orang di Libya siap untuk bekerja dengan perusahaan-perusahaan dari Turki. .. Namun, kerjasama di sektor perbankan mungkin akan sulit karena UU perbankan Libya tidak memperbolehkan bank asing beroperasi,” Kata Mezran.

Turki berharap, aktivitas ekonominya di Libya bisa menopang perekonomian dalam negeri Turki yang akhir-akhir ini hancur karena pandemi Covid-19.

Turki saat ini tengah berjuang mengatasi inflasi dua digit, tingkat pengangguran yang tinggi, dan lemahnya nilai tukar Lira terhadap dolar. Erdogan berusaha keras mencari jalan keluar dari keterpurukan ekonomi. Saat ini pun, Turki sedang berusaha menjalin kerjasama pertukaran mata uang dengan Jepang dan Inggris untuk mengatasi cadangan devisa yang kian menipis.

Libya, di bawah kendali GNA dikabarkan telah mengirimkan dana senilai USD 8 milyar di Bank Sentral Turki selama empat tahun terakhir,  tanpa bunga, agar mata uang Lira bisa stabil.

Menurut pendapat Yenigun, perekonomian Turki akan mendapatkan dorongan ekstra setelah perusahaan-perusahaannya di Libya mulai beroperasi kembali.

Saat ini, para kontraktor Turki sedang menunggu terjadinya genjatan senjata dan situasi keamanan membaik di Libya agar mereka bisa kembali beraktivitas di negara itu. Yenigun menyebut, bahkan saat ini Libya telah memberikan kontrak kepada perusahaan Turki untuk membangun lima ribu rumah prefabrikasi.

Kerjasama Energi

Perang tahunan yang melanda Libya telah menyebabkan tekanan di sektor energi negara itu hingga menyebabkan pasokan listrik menjadi lumpuh. Pemerintah Turki ingin membangun kerjasama dengan Libya melalui GNA untuk menghidupkan kembali sektor energi Libya.

Saat ini, Turki sedang mengevaluasi peluang kerja sama dengan Libya di bidang eksplorasi minyak dan gas alam. Menurut keterangan Menteri Energi dan Sumber Daya Alam Turki, Fatih Donmez, aktivitas impor energi Turki menelan biaya USD 40 milyar pertahun dan menyebabkan defisit neraca berjalannya menggelembung.

“Kami akan membangun kerjasama dengan perusahaan minyak nasional Libya,” jelasnya.

Tahun lalu, Turki dan Libya telah menandatangani kesepakatan maritim dan mendefinisikan ulang wilayah teritorial mereka di perairan Mediterania. Kesepakatan ini diikuti oleh komitmen Turki untuk mengirim peralatan militer dan tenaga ahli mereka untuk GNA dan mendukung perjuangan melawan LNA.

Pada Mei lalu, perusahaan minyak nasional Turki, Turkish Petroleum (TPAO) telah mengajukan permohonan izin eksplorasi gas di laut Mediterania sesuai dengan definisi baru wilayah teritorial yang sebelumnya telah disepakati Turki dan Libya. Langkah ini menyebabkan Turki bersitegang dengan Siprus dan Yunani, karena dianggap telah melanggar zona ekonomi eksklusif yang diakui secara internasional.

Setelah kunjungan delegasi Turki ke Tripoli, operator kapal listrik Turki, Karadeniz Holding mengumumkan bahwa mereka sedang mempersiapkan tawaran untuk memasok hingga 1.000 megawatt listrik ke Libya dan akan mengirimkannya dalam waktu dekat. (HA/LiputanIslam.com)

 

DISKUSI: