CEO Tesla Mengaku Berada di Balik Kudeta Bolivia

0
49

Washington, LiputanIslam.com–CEO Tesla, Elon Musk, mengakui perannya dalam kudeta bulan November atau disebut juga “kudeta Lithium” untuk menggulingkan mantan Presiden Bolivia Evo Morales.

Pernyataan provokatif itu bermula ketika sang miliuner menyebut bahwa RUU pemerintah AS untuk mendorong ekonomi negara mungkin tidak sesuai dengan kepentingan rakyat Amerika sendiri.

Kemudian, seorang netizen membalas dengan cuitan: “Anda tahu apa yang tidak sesuai dengan kepentingan terbesar rakyat? [Itu adalah ketika] pemerintah AS merancang kudeta terhadap Evo Morales di Bolivia agar Anda bisa mengambil lithium di sana.”

Musk pun membalas tudingan itu dengan cuitan: “Kami akan kudeta siapa pun yang kami inginkan! Terima saja.” Kemudian, ia mengklaim bahwa Tesla memperoleh lithium dari Australia.

Unggahan itu pun memancing berbagai kecaman di Twitter, meski sebagian netizen menganggapnya hanyalah lelucon buruk.

“Saya mengerti ini hanyalah lelucon, tapi lelucon yang buruk sekali. Orang-orang tak bersalah menderita ketika kudeta militer yang didukung AS terjadi. Anda menggampangkan penderitaan itu,” demikian isi dari salah satu cuitan netizen.

Mantan Presiden Bolivia, Evo Morales, mengundurkan diri pada November lalu setelah ada tudingan kecurangan pemilu. Dalam sebuah wawancara dengan RT, ia menyebut apa yang terjadi di Bolivia sebagai “kudeta” yang bertujuan untuk memasang pemimpin sayap kanan yang akan membuka cadangan lithium Bolivia untuk kapitalis.

Sebelumnya, Bolivia menghentikan proyek lithium raksasa dengan perusahaan Jerman ACI Systems Alemania (ACISA). Meskipun benar bahwa Tesla memperoleh lithium dari Australia, perusahaan itu juga disebut-sebut sebagai salah satu klien ACISA.

Lithium merupakan komponen baterai yang digunakan dalam kendaraan Tesla. Sumber daya alam ini telah menjadi salah satu yang paling penting di dunia karena dibutuhkan untuk baterai mobil listrik, komputer, dan peralatan industri.

Pasca penggulingan Evo Morales, presiden sementara Bolivia Jeanine Añez mengumumkan rencananya untuk mengundang perusahaan multinasional ke Salar de Uyuni, dataran garam luas di Potosi, yang menyimpan lithium.

Sementara itu, Menlu Karen Longaric yang tergabung dalam rezim kudeta, sempat menulis surat kepada Elon Musk pada 31 Maret lalu. Isi surat itu menyebutkan bahwa “perusahaan manapun yang dapat Anda berikan kepada negara kami akan disambut dengan penuh terima kasih.” (ra/rt/telesur)

DISKUSI: