‘Biden Menghina Putin Secara Personal’

0
17

Moskow, LiputanIslam.com –Juru Bicara Kepresidenan Rusia Dmitry Peskov mengatakan bahwa Presiden AS Joe Biden telah melakukan penghinaan secara personal kepada Presiden Rusia Vladimir Putin. Pernyataan itu disampaikan Peskov Sabtu (26/3) untuk merespon isi pidato Biden di hari yang sama, saat menutup rangkaian kunjungan ke Polandia. Saat itu, Biden menyerukan penggantian kekuasaan di Rusia. Joe Biden menyebut Presiden Rusia Vladimir Putin ‘tidak bisa terus berkuasa’. Sebelumnya, Biden juga menyebut Putin sebagai ‘tukang jagal’ dan ‘tukang daging’.

Sebagaimana dikutip Reuters, Peskov menegaskan bahwa bukan keputusan Biden untuk menentukan siapa yang berhak berkuasa di Rusia, karena presiden Rusia dipilih oleh rakyat Rusia.

Kritikan Politisi AS

Komentar Joe Biden itu memicu kritikan tajam dari kalangan internal AS. Seperti dilansir AFP, Senin (28/3/2022), Senator Senior AS dari Partai Republik, Jim Risch menyebut komentar Biden sebagai ‘kesalahan yang mengerikan’. Pernyataan Biden, menurutnya, justru bisa memperpanjang perang yang tengah berlangsung di Ukraina. Ia juga menilai pernyataan Biden itu bertentangan 180 derajat dengan upaya-upaya konstan pemerintahannya untuk mencegah konflik semakin meluas.

Dalam pernyataan lainnya seperti yang dikutip CNN, Risch mengatakan, “Tak banyak lagi yang bisa Anda lakukan untuk memicu eskalasi daripada menyerukan perubahan rezim.”

Pernyataan ceroboh Biden tersebut dilaporkan telah memaksa para penasihat kepresidenan AS untuk berjibaku meredakan kritikan yang muncul. Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken, yang saat ini  sedang berada di Yerusalem (menghadiri KTT Arab-Israel) menyatakan bahwa pernyataan Biden itu tidak bisa disebut sebagai seruan penggulingan Putin. Menurut Blinken, poin pernyataan Biden adalah  bahwa orang seperti Putin tidak bisa dikasih kesempatan untuk mengobarkan perang, atau terlibat agresi melawan Ukraina, atau melawan siapapun.

Duta Besar AS untuk NATO, Julianne Smith, juga menyatakan bahwa negaranya tidak memiliki kebijakan perubahan rezim terhadap Rusia.

Meskipun demikian, Richard Haass, diplomat AS yang memimpin Dewan Hubungan Luar Negeri mengakui bahwa  pernyataan Biden itu telah membuat situasi menjadi semakin sulit dan semakin berbahaya. Menurutnya, dengan bersandar kepada pernyataan Biden tersebut, Putin akan merasa punya bukti terkait dengan apa yang sering ia sampaikan sebagai kekhawatiran Rusia atas langkah-langkah AS. “Putin akan melihatnya sebagai konfirmasi atas apa yang dia yakini selama ini,” kata Hass.

Kritikan senada juga disampaikan oleh peneliti pada Institut Internasional untuk Kajian Strategis AS, Francois Heisbourg. Ia meminta agar Biden tidak ‘berbicara secara sembrono’.

Prancis Tak Sepakat

Menanggapi pernyataan kontroversial Biden itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengaku bahwa pihaknya tak sepakat dengan komentar Biden. Dalam wawancara dengan kanal televisi France-3 seperti yang dikutip Associated Press, Minggu (27/3/2022), Macron menyatakan bahwa semua pihak seharusnya bersikap realistis dan faktual, serta berusaha agar situasi tidak berada di luar kendali. Macron menyatakan bahwa ia tak akan menggunakan istilah-istilah sebagaimana yang diucapkan oleh Biden. Ia lebih memilih untuk terus berbicara dengan Presiden Putin, karena yang saat ini seharusnya menjadi tujuan prioritas adalah bersama-sama menghentikan perang yang diluncurkan Rusia di Ukraina, tanpa mengobarkan perang lain..

Macron menyatakan bahwa ia telah beberapa kali melakukan pembicaraan dengan Putin melalui telepon, dan pembicaraan itu dijadwalkan kembali dilakukan hari Senin (28/3).

Meskipun menunjukkan sikap kritis terhadap Biden, Macron menegaskan bahwa bagi Prancis, AS masihlah sekutu penting dalam isu invasi ke Ukraina. Namun, ia mengingatkan Washington bahwa yang akan terdampak secara langsung dari berlarut-larutnya krisis Rusia-Ukraina adalah negara-negara Eropa yang berada di dekat Rusia.  (os/LI/AP/Reuters/CNN)

DISKUSI: