Inna Lillahi, Konflik Arab dan Non-Arab di Darfur Tewaskan Sedikitnya 168 Orang

0
413

Darfur, LiputanIslam.com  Sedikitnya 168 orang tewas dalam bentrokan antara orang Arab dan non-Arab di wilayah Darfur yang dilanda perang di Sudan, ungkap sebuah kelompok penyalur bantuan negara ini.

Juru bicara Koordinasi Umum untuk Pengungsi di Darfur, Adam Regal, Ahad (24/4), menyatakan bahwa pertempuran di daerah Kreinik, provinsi Darfur Barat, juga telah melukai 98 lainnya.

Dia mengatakan bentrokan pertama meletus pada Kamis lalu, dimana dua orang terbunuh di tangan penyerang tak dikenal di Kreinik, sekitar 30 km timur Genena, ibu kota provinsi Darfur Barat.

Bentrokan kemudian mencapai Genena, di mana kelompok-kelompok bersenjata menyerang orang-orang yang terluka saat mereka dirawat di rumah sakit utama kota itu, menurut Salah Saleh, seorang dokter dan mantan direktur medis di rumah sakit tersebut.

Gambar-gambar yang diposting online pada Ahad lalu memperlihatkan rumah-rumah yang terbakar dan gumpalan asap hitam tebal di angkasa, serta petak-petak tanah hangus tempat gubuk-gubuk berdiri sebelum dibakar.

Namun demikian, kantor berita AFP tidak dapat secara independen memverifikasi keaslian gambar tersebut.

Komite Palang Merah Internasional meminta pihak berwenang untuk memastikan kedatangan yang aman para korban luka  ke rumah sakit.

Kelompok Janjaweed Disalahkan

Kelompok bantuan tersebut menuduh kelompok milisi Janjaweed yang didukung pemerintah sebagai dalang serangan terbaru.

Kelompok bersenjata yang sebagian anggotanya beretnis Arab itu sempat menjadi buah bibir di awal tahun 2000-an karena berperan dalam penumpasan pemberontakan etnis minoritas di Darfur.

Banyak anggotanya sejak itu diintegrasikan ke dalam Pasukan Pendukung Cepat paramiliter yang ditakuti, yang dipimpin oleh Jenderal Mohamed Hamdan Dagalo, wakil pemimpin de facto Sudan, menurut kelompok-kelompok HAM.

Regal mengatakan kelompok bersenjata itu dalam beberapa pekan terakhir ini “melakukan pembunuhan, pembakaran, penjarahan, dan penyiksaan tanpa ampun”.

Pada tahun 2003 konflik meletus antara pemberontak etnis minoritas yang mengeluhkan diskriminasi di satu pihak dan pemerintahan Presiden Omar al-Bashir yang didominasi Arab di pihak lain.

Pemerintah Al-Bashir menanggapi pemberontakan itu dengan mengerahkan kelompok Janjaweed, yang sebagian besar direkrut dari suku-suku penggembala Arab, yang disalahkan atas kekejaman termasuk pembunuhan, pemerkosaan, penjarahan dan pembakaran.

Konflik tersebut menewaskan sekira 300.000 orang dan membuat 2,5 juta orang mengungsi, menurut data PBB.

Pertempuran skala besar telah mereda di sebagian besar Darfur, tapi wilayah itu tetap dibanjiri senjata, dan pertempuran sering meletus terkait dengan akses ke padang rumput atau air.

Wilayah Darfur di Sudan dilanda bentrokan mematikan antara suku-suku yang bersaing dalam beberapa bulan terakhir ketika negara ini semakin terdera krisis pasca kudeta pada tahun lalu di mana para jenderal tinggi menggulingkan pemerintah yang dipimpin sipil. (mm/aljazeera)

DISKUSI: