AS Makin Kisruh, Ada Rencana Demonstrasi Bersenjata dan Pemberontakan

0
403

Tentara AS berjaga di Capitol Hill

Washington, LiputanIslam.com –Situasi di AS makin kisruh menjelang pelantikan Joe Biden sebagai presiden, 20 Januari mendatang. Situs Kementerian Luar Negeri AS, pada hari Senin, 11 Januari pukul 19 waktu setempat, sempat mengumumkan bahwa Donald Trump dan Mike Pence telah menyatakan mundur dari jabatan sebagai presiden dan wakil presiden. Meskipun akhirnya dihapus, pengumuman tersebut membuat banyak spekulasi temtang situasi keamanan makin menjadi liar.

Situasi keamanan di AS makin tidak menentu pasca penyerbuan demonstran pendukung Trump ke Gedung Capitol saat Kongres bersidang menetapkan hasil pilpres AS. Berbagai akun medsos Trump dibekukan karena ditengarai, aksi berdarah yang menewaskan lima orang itu, dipicu oleh pernyataan-pernyataan Trump yang disampaikan lewat akun-akun medsos miliknya. Trump menuduh telah terjadi kecurangan masif dalam proses pemilu. Trump yakin bahwa ialah yang sebenarnya memenangi pemilu Desember lalu. Untuk itulah, meskipun Trump menyatakan akan hadir dalam pelantikan Biden nanti, ia tetap enggan mengucapkan selamat kepada rivalnya itu.

Situasi ini memunculkan spekulasi bahwa Trump diam-diam merancang sebuah aksi lain untuk menggagalkan pelantikan. Sejumlah kantor berita mengutip peringatan Biro Investigasi Federal AS (FBI) tentang akan digelarnya “demonstrasi bersenjata” di seluruh Gedung Dewan Perwakilan di seluruh 50 negara bagian AS. Demo serupa juga akan digelar di Gedung Kongres. Demo di negara bagian rencananya akan digelar dari 16 hingga 20 Januari. Sedangkan di Gedung Kongres, demo tersebut digelar mulai 17 Januari hingga hari pelantikan, 20 Januari.

Pihak keamanan juga mendeteksi adanya ancaman pemberontakan dari para pendukung Trump jika yang bersangkutan dimakzulkan sebelum tanggal 20 nanti. Sidang pemakzulan sendiri akan tanggal 13 Januari waktu setempat. Kongres akan menggelar sidang dalam rangka mengaktifkan Amandemen ke-25 konstitusi AS, yaitu pemecatan  dengan mengancam proses kenegaraan, yaitu pelantikan presiden baru negara itu. (os/kompas/cnn)

DISKUSI: