Putin: Hegemoni Unipolar Sedang Runtuh

0
217

Moskow, LiputanIslam.com   Presiden Rusia Vladimir Putin memastikan bahwa apa yang disebutnya “hegemoni unipolar” sedang mengalami proses keruntuhan manakala dunia sekarang berada di ambang pembentukan tatanan dunia yang lebih adil.

“Di depan mata kita, ada proses sulit untuk membentuk tatanan dunia yang lebih adil,” kata Putin dalam percakapan dengan kepala badan intelijen Persemakmuran Negara Independen (CIS), aliansi yang berada di bawah Rusia, Kamis (29/9).

Putin menjelaskan bahwa formasi seperti itu disertai dengan “problematika nyata di permukaan.”

Dia menambahkan, “Hegemoni unipolar runtuh tanpa henti, ini adalah realitas objektif yang ditolak mentah-mentah oleh Barat, sementara kita melihat semua yang muncul dari itu.”

Melalui konferensi video,  Putin menjelaskan, “Berpegang teguh pada masa lalu dan mencoba untuk mengejar kebijakan dikte di semua bidang – dari hubungan internasional dan ekonomi hingga budaya dan olahraga – kolektif Barat yang paling terkenal ini menciptakan masalah baru dan baru, krisis.”

Menurutnya, dalam situasi yang rumit dan tegang seperti itu, keamanan eksternal dan stabilitas internal adalah dua kondisi penting untuk pembangunan ekonomi yang stabil.

“Untuk menempatkan penghalang yang benar-benar kokoh terhadap tantangan yang ada dan potensial, negara-negara CIS harus bertindak dengan jelas dan harmonis, terus-menerus memperkuat dukungan timbal balik,” katanya.

Putin menambahkan bahwa pihak lawan siap untuk mempertaruhkan siapa pun, untuk mengubah negara mana pun menjadi pusat krisis dan memprovokasi revolusi warna untuk melancarkan pembantaian.

Dia mengatakan Barat memelihara skenario untuk memicu konflik di CIS, di mana ada cukup banyak konflik yang muncul sebagai akibat dari pembubaran Uni Soviet.

“Cukup untuk melihat apa yang terjadi sekarang antara Rusia dan Ukraina, terjadi di perbatasan beberapa negara CIS lainnya. Tetapi risiko destabilisasi masih terus meningkat, termasuk risiko destabilisasi seluruh kawasan Asia-Pasifik,” katanya.

Dia juga menyinggung masalah Afghanistan dengan mengatakan, “Afghanistan tetap tidak stabil, sangat rentan terhadap serangan teror dan ekstremis dapat menyusup ke negara-negara CIS dari Afghanistan.” (mm/alalam/anadolu)

DISKUSI: