10.000 Rakyat AS Ajukan Permintaan Maaf Kepada Bangsa Iran

0
147

Sumber: Presstv

Washington, LiputanIslam.com—Sebuah kelompok advokasi perdamaian Amerika telah mengumpulkan lebih dari 10.000 tanda tangan untuk surat terbuka permintaan maaf kepada bangsa Iran atas agresi AS, khususnya keputusan “tolol” Presiden Donald Trump yang memerintahkan pembunuhan komandan senior Iran Letnan Jenderal Qassem Soleimani.

“Ketika orang Amerika berkomitmen untuk perdamaian dan keselamatan semua orang, kami, yang bertanda tangan di bawah ini, meminta maaf atas tindakan presiden kami yang ceroboh dan penuh kebencian,” demikian bunyi surat yang ditulis oleh CODEPINK . Para aktivis lebih lanjut mengatakan, ” Kami akan melakukan segala yang kami bisa untuk menghentikan agresi Trump, menghapus sanksi yang melumpuhkan dan melanjutkan proses diplomasi dengan negara Anda.”

“Rakyat Amerika tidak ingin perang dengan Iran. Kami ingin hidup dalam kedamaian dan harmoni. Silahkan terima tangan kita dalam persahabatan. Semoga para pembawa damai menang atas mereka yang menabur kebencian dan perselisihan,” tambah mereka.

Baca: Washington Tuding Iran Ancaman Bagi Keamanan Irak

Kelompok advokasi perdamaian mengirimkan surat itu, baik dalam bahasa Inggris dan bahasa Persia, dan versi video ke pers Iran.

Versi Farsi dari surat permintaan maaf ini telah dibacakan oleh mahasiswa pascasarjana Yahudi-Amerika Lindsay Saligman, yang melakukan perjalanan ke Iran pada Maret 2019. Sejak itu ia bekerja untuk mempromosikan pemahaman yang lebih besar antara orang Iran dan Amerika.

Awal bulan ini, Presiden Trump membawa AS dan Iran ke jurang konflik militer dengan memerintahkan serangan drone yang membunuh Jenderal Soleimani, komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di Baghdad.

Iran menanggapi agresi Trump dengan meluncurkan serangan rudal balistik ke pos-pos militer Amerika di Irak.

Pada Sabtu kemarin, sebuah koalisi aktivis anti-perang mengorganisir demonstrasi di seluruh AS dan dunia untuk mengecam pemerintahan Trump karena memicu eskalasi konflik yang berbahaya.(fd/Presstv)

DISKUSI: