Wafatnya Emir Kuwait, Musibah bagi Dunia Arab dan Islam

0
171

LiputanIslam.com –  Emir Kuwait Syeikh Sabah Al-Ahmad Al-Sabah menghembus nafas terakhirnya di sebuah rumah sakit di Amerika Serikat (AS) Selasa  29 September 2020 setelah sekian lama berjuang melawan penyakit. Kepergian Al-Sabah menjadi musibah bukan hanya bagi Kuwait, melainkan bagi seluruh dunia Arab dan Islam, karena mereka kehilangan salah satu pemimpinnya yang terkemuka di era modern.

Syeikh Al-Sabah adalah sosok yang dikenal sebagai penyabar, arif, bijaksana, lapang dada, toleran, dan telah mengerahkan segenap upayanya demi menjaga kepentingan negara, umat, dan keyakinannya.

Dia adalah figur yang selalu peduli dan berpihak kepada Palestina serta menyokong perjuangan bangsa Palestina untuk membebaskan tanah airnya, menggapai hak-haknya, dan mendirikan negara merdeka dengan ibu kota Al-Quds (Baitul Maqdis/Yerussalem). Dia adalah pemimpin Arab yang paling konsisten dan solid menolak normalisasi hubungan dengan Rezim Zionis Israel meskipun mendapat tekanan hebat dari AS dan beberapa rezim Arab, terutama negara-negara jirannya sendiri di Teluk Persia.

Emir Kuwait telah wafat dengan meninggalkan banyak prestasi. Di dalam negeri dia berhasil membentengi persatuan nasional, mencampakkan sektarianisme, mewujudkan kesetaraan sosial, mengatasi berbagai perselisihan di tengah keluarga yang berkuasa, menjaga persatuan mereka, menenamkan demokrasi, dan menjunjung supremasi hukum di sebuah negara yang terletak di kawasan yang justru menjadi sarang para diktator penista hak asasi dan penumpas lawan pendapat.

Sedangkan di luar negeri, terutama di kawasan Teluk Persia sendiri, dia dikenal sebagai duta perdamaian dan penengah yang dapat diterima oleh semua pihak, termasuk dalam pertikaian belakangan ini antarnegara Teluk sendiri. Dialah orang yang berhasil mencegah pecahnya perang Qatar dengan negara-negara jiran yang memusuhinya, membendung eskalasi, melindungi Dewan Kerjasama Teluk (GCC) dari perpecahan, dan memelihara hubungan erat dengan semua negara jirannya, termasuk Iran, berasaskan prinsip dialog dan saling menghormati.

Emir Kuwait berpindah ke alam baka setelah sekian dekade berhasil menjaga pamornya sebagai sosok bijakawan yang rendah hati, politisi yang cerdas dan berpandangan jauh ke depan, dan peduli untuk terus menjaga komunikasi dengan beragam pendapat dalam berbagai isu dengan penuh lapang dada demi kemaslahatan negaranya. Dia berjuang melawan berbagai hasutan, selalu mengedepan toleransi, visioner, dan menjadi acuan bagi kemaslahatan negara dan bahkan bagi umat dan keyakinannya.

Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah di Libanon turut menyatakan takziyah atas wafatnya Syeikh Sabah serta mengenang jasa-jasanya bagi bangsa Libanon.

“Kami bertakziyah kepada pemerintah, rakyat, dan putra mahkota Kuwait atas wafatnya Emir Sabah al-Ahmad al-Jabir al-Sabah,” ungkap Nasrallah dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh saluran TV Al-Manar milik Hizbullah beberapa jam setelah wafatnya al-Sabah.

“Bangsa Libanon tidak melupakan peranan Sang Emir dalam penghentian perang saudara (di Libanon) dan tidak pula melupakan pendirian Kuwait dalam Perang Juli (2006 antara Hizbullah dan Israel) serta dukungannya kepada Libanon dan rekonstruksi negara ini,” lanjut Nasrallah.

Dia juga mengapresiasi keteguhan Alm. Syeikh al-Sabah di depan tekanan negara-negara Arab jirannya terkait dengan normalisasi hubungan Arab dengan Rezim Zionis Israel.

“Kami mencatat bahwa Kuwait di bawah naungan emirnya yang telah wafat bersiteguh pada pendiriannya di depan tekanan negara-negara Teluk  agar bergabung dengan normalisasi… Kuwait tetap menjaga pendiriannya yang mulia terhadap Al-Quds (Yerussalem) dan Palestina, berlawanan dengan kereta normalisasi,” puji Nasrallah.

Pihak Iran yang dimusuhi oleh sebagian besar negara Arab Teluk juga turut merasa kehilangan Syeikh al-Sabah. Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menyebut Syekh Sabah al-Ahmed al-Jabir al-Sabah sosok pemimpin moderat.

“Berita wafatnya Emir Kuwait Syeikh Sabah al-Ahmed al-Jabir al-Sabah yang telah memberikan gambaran kemoderatan dan keseimbangan bagi Kuwait menyakitkan bagi kami,” ungkap Zarif di halaman Twitternya pada hari wafatnya Al-Sabah.

Dia menambahkahkan, “Kami memohon kepada Allah agar memberinya rahmat yang luas serta menganugerahkan keamanan, stabilitas, kemajuan dan perkembangan kepada Kuwait dan bangsanya di bawah naungan pemerintahan baru.”

Berbagai negara lain juga menyampaikan ucapan belasungkawa atas musibah ini

Dengan latar belakang sedemikian cemerlang, kepergian Syeikh Ahmad al-Sabah, terutama di tengah situasi sulit yang terus melanda dunia Arab, jelas menjadi musibah besar dan ketiadaan sosok pemimpin Arab nan bijak tak tergantikan. Dia bahkan merupakan pemimpin Arab terakhir yang teguh memegang panas bara api prinsip dan nilai-nilai umat.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya di alam baka, mengampuni segala dosanya, dan menerima segala amal baiknya. Amin ya Rabbal alamin. (mm/raialyoum)

DISKUSI: