Timur Tengah Tidak Respon Keras Isu Golan, Kenapa?

0
142

Damascus, LiputanIslam.com–Presiden AS Donald Trump akhirnya resmi mengakui Dataran Tinggi Golan sebagai wilayah kedaulatan Israel pada Senin (25/3) kemarin. Namun, deklarasi itu tidak menerima respon besar dari negara-negara Timur Tengah.

Jurnalis terkemuka Daoud Kuttab menilai, hal ini disebabkan ‘suara yang terpecah-pecah’ di antara negara-negara itu.

Dalam wawancara dengan Radio Sputnik’s Loud & Clearon, Kuttab mengatakan kepada host Brian Becker dan John Kiriakou bahwa bagi kebanyakan negara Timur Tengah, kedaulatan Suriah sendiri masih dipertanyakan.

“Anda benar, tidak ada kemarahan yang cukup dari Timur Tengah,” ucapnya.

“Salah satu masalahnya adalah Suriah merupakan negara yang terpecah-pecah, dan dunia Arab terpecah-pecah di sekitar Suriah, dan konsep negara Suriah yang berdaulat kini jadi lelucon…,” imbuhnya.

“[Suriah] terbagi-bagi antara faksi, kelompok, pasukan eksternal dan internal yang berbeda-beda. Saya pikir masalahnya adalah … kini adalah masanya ketika kedaulatan Suriah sendiri dipertanyakan,” lanjutnya.

Namun, ini juga tidak berarti tidak akan ada pernyataan keras dari Timur Tengah di masa mendatang. Menurut Kuttab, pernyataan keras terkait isu ini kemungkinan akan datang dari Liga Arab dalam seminggu ke depan.

Israel merebut Dataran Tinggi Golan dari Suriah selama Perang Enam Hari tahun 1967. Pada 1981, parlemen Israel mengesahkan undang-undang yang berisi keputusan mencaplok, menguasai, dan memperluas hukum Israel atas wilayah itu. Namun, tindakan ini sebagian besar dilawan oleh komunitas internasional termasuk PBB. (ra/sputnik)

DISKUSI: