Teka-Teki Penembak Jatuhan Drone Israel oleh Hizbullah di Libanon

0
191

LiputanIslam.com –  Militer tak dapat mengelak dari apa yang diumumkan oleh media perang Hizbullah bahwa kelompok pejuang ini telah menembak jatuh drone Israel jenis Mavic yang melanggar zona udara Libanon di daerah Aita Al-Shaab, Sabtu 22 Agustus 2020. Israel terpaksa mengakuinya, namun sembari memberikan peringatan kepada media di negara Zionis ini untuk tidak mengekspos masalah ini.

Badan keamanan Hizbullah memublikasi gambar drone itu, yang terlihat tergeletak di atas tanah dalam kondisi utuh, dan seakan untuk memperlihatkan rasa percaya diri elemen Hizbullah itu. Publik Israelpun percaya kepada apa yang diklaim Hizbullah, apalagi  hasil sebuah jajak pendapat menunjukkan bahwa 80 persen orang Israel percaya kepada apa yang dikatakan Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah dalam berbagai pidato dan orasi rutinnya, dan karena itu mereka juga ikut antusias mengikuti setiap pidato Nasrallah.

Dalam pernyataan Hizbullah disebutkan bahwa drone itu tertembak jatuh ketika menjalankan misi pengintaian di angkasa Libanon selatan. Pernyataan Hizbullah itu singkat sekali, dan ini tampak sudah menjadi metode kelompok pejuang yang berbasis di Libanon ini. Mereka seakan sengaja mengusik ketengan Israel dengan memunculkan teka-teki mengenai proses penembakan jatuhan drone itu beserta jenis sarana pertahanan udara yang digunakan.

Perang urat saraf sudah menjadi salah satu kata kunci dalam konflik Hizbullah-Israel. Hizbullah cukup berpengalaman dalam hal ini sehingga bahkan memiliki elemen-elemen tersendiri yang membidanginya di lapangan.

Pelibatan drone di medan perang, baik untuk spionase maupun tempur, bahkan sudah menjadi trend dan dipandang krusial dalam konflik di era kontemporer, sehingga kemampuan menyiasati, menghadapi, dan menjatuhkan drone pihak lawan praktis menjadi salah satu parameter.

Karena itu, wajar jika para pakar militer Israel terbelit teka-teki mengenai proses penjatuhan drone tersebut serta tiga drone lain sebelumnya di Libanon selatan dalam beberapa bulan terakhir. Dari teki-teki ini kemudian muncul teka-teka turunannya, yaitu senjata jenis apa yang digunakan Hizbullah? Apakah rudal, dan rudal jenis apa pula? Buatan lokal ataukah berasal dari Iran?

Teka-teki itu muncul, sementara media Israel beberapa hari lalu melaporkan kemungkinan pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) mengalokasikan dana miliaran dolar AS untuk membeli sistem pertahanan udara Israel yang dapat diandalkan untukmmerontokkan drone-drone yang mungkin suatu saat akan melanggar zona udara UEA, terutama drone Ansarullah yang berbasis di Yaman, atau bahkan drone Iran.

Tidak kecil kemungkinan teknologi militer yang digunakan Hizbullah berasal dari Iran, bukan saja karena kuatnya persekutuan antara keduanya, melainkan juga karena, sebagaimana bahkan diulas panjang lebar dalam berbagai laporan militer Eropa, terjadi kemajuan besar dalam  industri dan teknologi drone Iran, yang juga terlihat dari kemampuan negeri mullah ini merontokkan drone supercanggih AS di ketinggian 20 km di angkasa Selat Hormuz.

Hizbullah bak mendapat durian runtuh ketika berhasil menguasai drone Israel itu setelah berhasil menembaknya jatuh. Hampir pasti, para pakar mereka, dan atau bisa jadi pakar Iran, akan menelisik dan mempelajari komponen elektronik canggih yang terpasang di dalamnya sebagai sarana penghimpun informasi.

Karena itu, Israel biasanya segera memusnahkan dronenya yang tertembak jatuh. Namun Hizbullah rupanya juga tak kurang akal dalam menyiasati kebiasaan itu sehingga berhasil mendapatkannya dalam kondisi utuh, segera menyembunyikannya di tempat aman, dan tak mengumumkannya kecuali setelah misi itu selesai dan keadaan sudah dirasa aman.

Entah bagaimana respon militer Israel nanti atas ketercolongannya di Libanon selatan. Yang jelas, para petinggi militer Zionis harus menguras pikiran sebelum menerbangkan lagi pesawat nirawaknya untuk menjalankan misi serupa, sebab zona udara Libanon sudah tidak lagi aman bagi mereka. (mm/raialyoum)

DISKUSI: