Tarif Cukai Naik, Pedagang dan Pembeli Keluhkan Harga Rokok

0
179

Sumber; katadata.co.id

Jakarta, LiputanIslam.com— Pemerintah telah menetapkan aturan kenaikan tarif cukai rokok yang tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tentang tarif cukai hasil tembakau.

Dalam aturan tersebut, tarif Sigaret Keretek Mesin (SKM) naik sebesar 23,29 persen, Sigaret Putih Mesin (SPM) sebesar 29,95 persen, dan Sigaret Keretek Tangan (SKT) atau Sigaret Putih Tangan naik 12,84 persen. Aturan ini akan diberlakukan mulai 1 Januari 2020.

Akan tetapi, harga rokok di pasar sudah mengalami kenaikan walaupun belum memasuki tahun baru. Marwan, salah satu pedagang rokok di Cawang, Jakarta Timur, mengatakan, kenaikan harga rokok sudah terjadi sejak Oktober 2019.

Baca: Petani Tembakau Protes Kenaikan Cukai Rokok Terlalu Tinggi

“Cuma saya bingung ya, katanya kan naiknya sama cukai rokok Mulai 1 Januari 2020, tapi kenapa harga rokoknya sudah naik sejak Oktober ya?,” kata dia.

Dia menuturkan, banyak pembeli yang mengeluhkan harga rokok dalam dua bulan belakangan. Sebab, harganya terus naik.

“Di sini kan saya cuma jualan ya, kiosnya bukan milik saya, jadi naik atau tidak biasa saja buat saya,” ujarnya.

Fahri, pedagang rokok di pasar Gandaria, Jakarta Selatan, mengungkapkan bahwa kenaikan rokok juga mencekik para pedagang. Hal ini membuat sulit bisnis penjualannya.

“Naik terus, kami yang jual juga bingung, ya mencekik kami juga. Ini malah katanya Januari mau naik lagi,” ungkapnya.

Dia menyebutkan, kenaikan harga rokok bervariasi mulai dari Rp 1.000 sampai Rp 2.000 per bungkus. Marlboro filter dan merah masing-masing dijual dengan harga Rp 28 ribu dan Rp 30 ribu per bungkus. LA gold naik Rp 2.000 menjadi Rp 25 ribu dan LA merah naik Rp. 1000 menjadi Rp 22 ribu per bungkus.

Selain itu, Dunhil putih naik Rp 1.000 menjadi Rp 26 ribu, dan Dji Sam Soe kuning isi 12 batang naik dari Rp 18 ribu menjadi Rp 19 ribu per bungkus. (sh/cnnindonesia/tribunnews)

 

DISKUSI: