Taliban: Acara Asyura Bebas, Imam Husain Tokoh Paling Penuh Pengorbanan dalam Sejarah Islam

0
1864

Kabul, LiputanIslam.com –  Deputi Komisi Kebudayaan Taliban, Ahmadullah Wasiq, menyebut Imam Husain ra, cucunda Nabi Muhammad saw, sebagai tokoh paling penuh pengorbanan dalam sejarah Islam, dan menyatakan bahwa Taliban sama sekali tidak memusuhi Syiah.

“Kami memperkenankan warga Syiah menyelenggarakan acara-acara keagamaannya dengan khidmat, sebab mereka juga orang Afghanistan dan dapat melakukan semua acara keagamaannya secara bebas,” ujar Ahmadullah kepada kantor berita Tasnim, Rabu (18/8).

Dia menjelaskan, “Acara-acara Muharram telah diselenggarakan di Afghanistan pada tahun-tahun sebelumnya. Tahun inipun, kami bukan saja tak melarang penyelenggaraan acara ini, melainkan juga mengerahkan segenap upaya kami untuk menjamin keamanan acara ini. Kami menghormati semua mazhab, kami mengakui adanya banyak titik persamaan di antara kami dan Syiah.

Deputi Komisi Kebudayaan Taliban, Ahmadullah Wasiq

Tokoh senior Taliban ini menambahkan, “Ahlul Bait Nabi (saw) dan para sahabat beliau sangat bersemayam dalam sanubari kami dan merupakan bagian dari akidah kami. Kamipun tak berkontradiksi dan bermusuhan dengan Syiah. Mereka juga merupakan saudara setanah air kami.”

Menyinggung Imam Husain ra dan Asyura dia mengatakan, “Imam Husain adalah tokoh paling penuh pengorbanan dalam sejarah Islam. Ahlussunnah memuliakan Hari Asyura sebagai hari khusus dunia Islam, tapi tidak menyelenggarakan ritual-ritual khusus pada hari ini, sedangkan Syiah menyelenggarakan ritual khusus seperti menepuk-nepuk dada, dan kami sama sekali tak bermasalah dengan acara ini.”

Sebelumnya, jubir resmi Taliban Zabihullah Mujahid mengatakan kepada Tasnim bahwa kalaupun kondisi keamanan Afghanistan belum pulih Taliban tetap akan bertanggungjawab menjamin keamanan acara Asyura di negara ini.

Kembalikan Pengibaran Bendera Simbolik Asyura

Bendera Asyura Husaini di Ghazni

Bendera Asyura Husaini di Ghazni

Di kota Ghazni di bagian timur Afghanistan, Taliban mengembalikan pengibaran bendera-bendera simbolik Asyura Husaini di bundaran-bundaran jalan kota ini di sisi bendera-bendera putih Taliban.

Tasnim melaporkan bahwa setelah Taliban memasuki Ghazni, tersiar video pengibaran bendera-bendera Taliban disertai pencopotan bendera-bendera simbolik Asyura Husaini, namun tak lama kemudian bendera-bendera Asyura Husaini dikibarkan kembali.

Ketika video itu beredar, seorang imam Jumat Syiah di Ghazni meminta penjelasan kepada komandan Taliban di sana, dan komandan itu lantas meminta maaf sembari menyebutkan bahwa pencopotan bendera Asyura itu dilakukan oleh orang-orang yang khilaf dan tidak tahu apa-apa.

Bendera Asyura Husaini di sisi bendera Taliban di Ghazni

“Dalam pemerintah Islam sejati, hak orang-orang Afghan dari suku dan mazhab  apapun akan dilindungi, dan semua pihak harus andil dalam pemerintah Islam ini. Tak syak lagi, saudara-saudara Syiah kami juga akan berpartisipasi dalam permusyawaratan dan pengambilan keputusan.”

Pekan lalu, Taliban juga mengumumkan kepada warga Syiah di kota Herat bahwa sebagaimana tahun-tahun sebelumnya tahun inipun mereka dapat menyelenggarakan semua acara keagamaan mereka, dan bahwa Taliban menjamin keamanan mereka.

Maulawi Zabihullah Nurani, pejabat kebudayaan Taliban di barat laut Afghanistan Selasa lalu menegaskan pihaknya sama sekali tidak bermasalah dengan warga Syiah Afghanistan.

“Saudara-saudara Syiah, yakinlah bahwa tidak akan ada ancaman apapun terhadap mereka dari pihak Taliban,dan silakan menyelenggarakan kegiatan dan peringatan hari-hari duka (Asyura),” ungkap Nurani.

Taliban Sudah Berbeda

Hussain Naderi, pakar sosial dan keagamaan, mengatakan, “Taliban sekarang berbeda dengan Taliban 20 tahun silam. Mereka telah berkesimpulan bahwa mereka harus berdampingan dengan saudara-saudara Syiah mereka, dan setahu saya, warga Syiah juga puas atas perlakuan Taliban.”

Naderi juga mengatakan, “Imam Husain terkait bukan hanya dengan Syiah, sebab sebagai cucunda Nabi Muhammad saw beliau adalah milik seluruh umat Islam, dan bahkan seluruh umat manusia dapat mengikuti kebangkitan Asyura sebagai sebuah ajaran dan menimba pelajaran darinya.”  (mm/tasnim)

DISKUSI: