‘Setiap Negara yang Impor Minyak Iran akan Hadapi Sanksi AS’

0
117

Washington,LiputanIslam.com—Utusan khusus Amerika untuk Iran, Brian Hook, mengatakan Amerika Serikat akan memberikan sanksi kepada negara mana pun yang mengimpor minyak dari Republik Islam.

“Kami akan memberikan sanksi atas impor minyak mentah Iran … Saat ini tidak ada keringanan,” kata Brian Hook pada Jumat (28/6), di London ketika ditanya tentang penjualan minyak mentah Iran ke Asia.

Dia menambahkan bahwa Amerika Serikat akan menyelidiki laporan minyak mentah Iran ke Cina.

“Kami akan menjatuhkan sanksi atas pembelian ilegal minyak mentah Iran,” katanya kepada wartawan.

Baca: Polisi Israel Tembak Mati Demonstran Palestina di Yerussalem

Presiden AS Donald Trump pada hari Senin mengumumkan sanksi baru terhadap Iran yang menargetkan Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Ali Khamenei dan komandan tertinggi Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC).

Trump mengatakan sanksi itu tetap akan dijatuhkan terlepas dari insiden tertembak jatuhny Pesawat Nirawak AS oleh IRGC.

Sehari setelahnya, Iran memperingatkan bahwa sanksi AS yang baru telah “menutup pintu diplomasi” antara Teheran dan Washington.

Sementara itu, Presiden Iran Hassan Rouhani pada Selasa mengecam pemerintahan Trump dan menyebutnya “menderita keterbelakangan mental.”

Rouhani juga menyebut sanksi terhadap Pemimpin itu “keterlaluan dan bodoh.”

Pemerintahan Trump mengatakan pada 22 April bahwa, dalam upaya untuk mengurangi ekspor minyak Iran menjadi nol, pembeli minyak Iran harus menghentikan pembelian pada 1 Mei atau jika tidak, mereka akan terkena sanksi. Langkah ini mengakhiri enam bulan keringanan, yang memungkinkan delapan pembeli terbesar Iran – Turki, Cina, Yunani, India, Italia, Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan – untuk terus mengimpor minyak dalam volume terbatas.

Desakan Amerika Serikat untuk memadamkan ekspor minyak Iran telah menyebabkan banyak masalah di pasar global, membuat para ahli dan pembeli bingung. Sebab sanksi ini telah menyebabkan perindustrian minyak menjadi kacau.(fd/Presstv)

DISKUSI: