Serangan AS ke Hizbulah Irak, Apa yang Dicari Washington?

0
227

Teheran,LiputanIslam.com-Sejak beberapa bulan lalu, basis-basis al-Hashd al-Shaabi menjadi target serangan, terutama serangan helikopter. Meski sumber serangan-serangan ini jelas, namun serangan terbaru AS ke basis Brigade Hizbullah Irak memicu sejumlah pertanyaan dan analisis.

Belum lama berselang, saat ISIS menduduki sejumlah kawasan di Mosul dan lainnya di Irak, media-media AS memublikasikan pernyataan dua pilot AU negara tersebut.

Para pilot itu mengaku, mereka dilarang pihak atasan untuk menyerang basis-basis teroris, walau tahu bahwa basis-basis mereka berada dalam jangkauan tembak.

Fakta ini menunjukkan, ternyata sikap pemerintah AS terhadap terorisme di Irak dan kawasan berlawanan dengan yang digembor-gemborkan.

Ini juga menjelaskan alasan Gedung Putih menuduh al-Hashd al-Shaabi dan kelompok-kelompok yang berafiliasi dengannya sebagai “teroris.” Padahal semua tahu peran utama kelompok relawan Irak ini dalam menumpas ISIS.

Jika dalam beberapa bulan terakhir, kita tak bisa membedakan pihak-pihak yang dituduh menyerang al-Hashd al-Shaabi, namun pengakuan Washington akan serangan terbaru ini telah menambahkan sejumlah aspek baru ke masalah ini.

Pertama, sejak dimulainya gelombang unjuk rasa di Irak, ada upaya-upaya untuk mengarahkan unjuk rasa itu terhadap kelompok relawan Irak, dan setelah mereka, Iran.

Bahkan sebagian pihak, yang dikenal pro-Barat, menuding al-Hashd al-Shaabi sebagai teroris. Mereka melupakan pengorbanan kelompok ini dalam memerangi ISIS yang merupakan ancaman bagi penduduk Irak.

Serangan ke basis-basis al-Shaabi terjadi usai kegagalan Washington menjalankan program mencurigakannya di balik unjuk rasa Irak, walau telah menghabiskan dana dalam jumlah besar untuk menyokong kelompok yang melancarkan propaganda terhadap al-Shaabi dan Iran.

Kedua, AS beralasan bahwa serangan ke Hizbullah Irak adalah respon terhadap serangan ke pangkalan AS, yang diklaim dilakukan oleh relawan Irak. Namun alasan sebenarnya lebih dari itu. Ini adalah konfrontasi AS dengan Iran, karena Washington menganggap tiap serangan ke kelompok al-Shaabi sebagai “serangan terhadap Iran.”

Ini ada benarnya, karena Iran memang menyokong al-Shaabi dalam menghadapi ISIS. Iran berperan besar dalam menggagalkan agenda AS, Israel, dan Arab Teluk yang dijalankan melalui kelompok-kelompok teroris.

Selain itu, kawasan tempat terjadinya serangan berada di dekat perbatasan Suriah. Ini menjelaskan tujuan-tujuan pemerintah AS, yaitu mencegah terbentuknya front yang telah menggagalkan proyek Washington di Irak, Suriah, Lebanon, dan Palestina.

Besarnya serangan dan pengakuan terbuka AS terkait serangan itu, menunjukkan bahwa Washington tahu, jika front di atas terbentuk sempurna, maka semua proyek AS akan gagal.

Ketiga, dengan menyerang basis al-Shaabi, pemerintah AS berusaha mengesankan kelompok ini sebagai kendala bagi “masa depan Irak yang lebih baik.”

Sikap serupa juga diambil Washington terhadap kelompok perlawanan di Lebanon dan Palestina.

Namun, yang luput dari perhatian AS adalah bahwa kekuatan al-Shaabi, sama seperti gerakan resistansi lain di kawasan, bersumber dari dukungan rakyat. Rakyat Irak percaya bahwa al-Shaabi adalah faktor kegagalan terorisme. Dengan demikian, serangan terhadap kelompok ini sama saja dengan serangan terhadap mayoritas penduduk Irak.

Kedok AS sudah tersingkap. Pengakuan AS muncul setelah pengakuan Afif Kukhafi (panglima militer Israel) yang menyatakan, tentara Rezim Zionis menyadari adanya bahaya yang mengancam mereka dari arah Irak.

Ini adalah kali pertama Israel mengakui serangan di dalam wilayah Irak semacam ini. Dengan pengakuan AS dan Israel atas keterlibatan dalam serangan ke al-Shaabi, kini masalah ini memasuki tahap baru. Mereka yakin bahwa al-Shaabi akan membalas serangan tersebut, dan dengan cara beruntun. Namun kali ini, serangan dilancarkan kedua belah pihak, bukan hanya AS atau Israel.

Pada akhirnya, kemenangan akan memihak kebenaran, dan semua tahu siapa yang berada di jalur kebenaran.

Hossein al-Mousavi

(af/alalam)

DISKUSI: