Sekilas Perjalanan Hidup Syahid Qassem Soleimani

0
243

Teheran,LiputanIslam.com-Mayjen Qassem Soleimani lahir pada tahun 1957 di sebuah desa pegunungan terpencil Ghanat Molk di kota Raber, provinsi Kerman.

Usai menyelesaikan pendidikan sekolah dasar pada usia 12 tahun, Soleimani meninggalkan tempat kelahirannya dan bekerja sebagai tukang bangunan di Kerman. Beberapa waktu kemudian, ia bekerja sebagai kontraktor di badan perairan. Di tahun-tahun itu pula dia mulai terlibat dalam aktivitas revolusioner.

Pasca kemenangan Revolusi Islam Iran, Soleimani bergabung dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Di awal perang Iran-Irak, ia memegang komando dua batalyon pasukan Kerman. Kemudian atas usulan Syahid Mir Bagheri, Soleimani membentuk brigade baru Kerman. Tak lama berselang, pada tahun 1983 ia bergabung dengan Divisi 41 Tharollah yang meliputi pasukan dari Kerman, Sistan va Baluchestan, dan Hormuzgan.

Sepanjang perang Iran-Irak/Teluk I, Soleimani terlibat dalam sejumlah operasi militer besar, seperti Val Fajr 8, Karbala 4, Karbala 5, dan Shalamche.

Divisi 41 Tharollah adalah bagian dari pasukan pembobol garis depan musuh. Divisi ini berperan penting dalam sejumlah operasi sukses Iran dalam Perang Teluk I.

Meski musim panas 1988 adalah akhir perang bagi kebanyakan rekan-rekan Soleimani, namun baginya justru merupakan awal periode perjuangan baru di medan tempur.

Berkat perjuangannya di perbatasan timur dan perang melawan sindikat pengedar narkoba di perbatasan Iran-Afghanistan, Soleimani pada tahun 1997 dipanggil Ayatullah Ali Khamenei (pemimpin tertinggi Iran) ke Teheran dan diangkat sebagai komandan Qods IRGC.

Salah satu prestasi gemilang Soleimani selama memimpin pasukan Qods adalah penguatan Hizbullah Lebanon dan kelompok pejuang Palestina. Contoh paling nyata bisa dilihat dalam sejumlah perang, seperti Perang 33 Hari antara Hizbullah dan Israel, serta kemenangan pejuang Gaza dalam Perang 22 Hari.

Pada hakikatnya, Soleimani telah berhasil mengimplementasikan strategi Iran, yaitu membantu kelompok-kelompok perlawanan terhadap Rezim Zionis.

Seiring munculnya konspirasi baru Barat dan dukungan finansial sejumlah negara, seperti Saudi, yang membidani kelompok-kelompok teroris, baik ISIS atau Jabhat al-Nusra, Soleimani mendapat misi baru untuk menumpas ancaman baru ini di Irak dan Suriah.

Dia lalu membentuk kelompok relawan “al-Hashd al-Shaabi” di Irak dan “pembela tanah air (al-Difa` al-Wathani)” di Suriah. Berkat dua kelompok relawan ini, juga bimbingan Qods IRGC, para teroris di kedua negara tersebut praktis dilenyapkan.

Bisa dikatakan bahwa Soleimani dan pasukannya, yang dimintai bantuan oleh pemerintah Suriah dan Irak, telah berhasil mencegah jatuhnya Damaskus dan Baghdad. Lawatan Soleimani ke Moskow juga yang berperan penting dalam meyakinkan Putin dan Rusia untuk terjun ke perang Suriah.

Mungkin salah satu tujuan utama musuh dalam menjatuhkan Suriah, adalah memutus hubungan Iran dengan Hizbullah Lebanon. Namun dengan kekalahan ISIS dan perang Qods di Suriah dan Irak, justru terbentuklah sebuah rantai kuat bernama “Poros Muqawamah”; rantai yang menghubungkan Iran, Irak, Suriah, Lebanon, dan Palestina.

Peran tak terbantahkan Soleimani di kawasan membuat pihak AS dan Israel menyematkan sejumlah julukan kepadanya, seperti Panglima Bayangan, Figur Terkuat Timur Tengah, dan Mimpi Buruk Israel.

Jasa-jasa Soleimani di medan pertempuran membuatnya dianugerahi Medali Zolfeghar oleh pemimpin tertinggi Iran pada Maret 2019. Medali ini adalah medali tertinggi di kalangan militer Iran.

Setelah melalui tahun-tahun penuh perjuangan, akhirnya Soleimani meraih impiannya untuk mereguk cawan syahadah, setelah kendaraannya diserang helikopter AS di sekitar bandara Baghdad, Jumat 3 Januari 2020. (af/fars)

DISKUSI: