Sejarah 2005 Diprediksi Terulang, Israel Hengkang dari Tepi Barat?

0
662

LiputanIslam.com-Harian cetakan Iran, Kayhan, menulis, saat ini operasi-operasi bersenjata pejuang Palestina di Tepi Barat kian masif hingga membuat para pemukim Zionis semakin tidak merasa aman.

Hal ini kembali menyegarkan ingatan dunia perihal kondisi sulit yang dialami Israel di tahun 2005 sebelum angkat kaki dari Gaza.

Sekitar 17 tahun silam di bulan Agustus 2005, PM Israel saat itu, Ariel Sharon, merilis perintah agar semua pemukim Zionis angkat kaki dari Gaza.

Proses evakuasi orang-orang Zionis dari Gaza memakan waktu hingga 27 hari. Sekitar 8.500 penduduk Zionis dipaksa hengkang dari 21 pemukiman di Gaza.

Dalam foto-foto yang diambil di masa itu, para pemukim Zionis keluar dari Gaza dengan wajah masam, menangis, atau harus dipaksa. Ada banyak foto yang menunjukkan Tentara Israel menarik tangan dan kaki para pemukim serta menyeret mereka di tanah agar mereka keluar dari Gaza.

Instruksi Sharon adalah hasil dari perundingan yang dilakukannya dengan Mahmoud Abbas. Mereka sepakat bahwa intifada warga Palestina saat itu harus dihentikan. Sebagai imbalannya, para pemukim Zionis harus angkat kaki dari Jalur Gaza.

Sharon yang sejak setahun sebelumnya gagal memberi keamanan bagi warga Zionis, mengajukan sebuah draf ke Parlemen Israel dan menamakannya “Keluar Sepihak dari Gaza.” Sharon berjanji bahwa setelah mengevakuasi warga Zionis dari Gaza, mereka akan menikmati hari-hari tenang.

Kaburnya orang-orang Zionis dari Gaza menjadi model sukses untuk operasi-operasi Perlawanan Palestina. Warga di Tepi Barat berharap bahwa apa yang telah terjadi di Gaza tahun 2005 akan terulang di daerah mereka.

Bisa jadi sebagian besar pihak berpendapat bahwa hengkangnya Zionis dari Tepi Barat adalah angan-angan muluk. Namun realitas di Tepi Barat saat ini menunjukkan, hengkangnya orang-orang Zionis dari kawasan itu justru lebih memungkinkan dibanding Gaza dahulu.

Dipublikasikannya sebuah laporan di tahun 2020 menunjukkan, proyek hengkangnya warga Zionis di tahun 2005 sebenarnya mencakup 2 tahap, yaitu Gaza dan Tepi Barat.

Sesuai dokumen yang ada, Kabinet Sharon di masa itu menyimpulkan bahwa satu-satunya jalan menjaga Rezim Zionis adalah angkat kaki dari Gaza, kemudian dari Tepi Barat. Jika tidak, berlanjutnya pendudukan atas Tepi Barat akan menghadapkan Tel Aviv dengan beragam tantangan.

Meski demikian, pertikaian politik saat itu antara Partai Likud dan Kadima menghentikan tahap kedua evakuasi warga Zionis dari Tepi Barat. Namun dipublikasikannya laporan ini menunjukkan, para petinggi Israel sudah melihat keluar dari Tepi Barat sebagai sebuah opsi.

Benar bahwa sulit diharapkan orang-orang Zionis keluar dari Tepi Barat dalam waktu dekat. Namun tidak ada keraguan bahwa para petinggi Tel Aviv akan terpaksa hengkang dari Tepi Barat. Skenario kaburnya Israel dari Gaza sangat mungkin terulang di Tepi Barat.

Hengkang dari Tepi Barat sendiri tidak akan menjamin keamanan bagi orang-orang Zionis. Kekacauan di Tel Aviv sudah demikian memuncak, sehingga, seperti yang dikatakan mantan PM Israel Ehud Barak, Rezim Zionis di dekade ke-8 pembentukannya akan lenyap dari dunia. (af/fars)

DISKUSI: