Ramai Konsep Milkul Yamin, ini Pandangan KH Afifuddin Muhajir

0
273

Sumber: mahadaly-situbondo.ac.id

Jakarta, LiputanIslam.com– Disertasi Abdul Aziz mahasiswa program doktor UIN Sunan Kalijaga yang berjudul “Konsep Milk Al-Yamin Muhammad Syahrur sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Non-Marital” menuai kontroversi di kalangan masyarakat. Disertasi itu mengalami pro-kontra dan ramai diperdebatkan pada beberapa hari terakhir ini.

Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Afifuddin Muhajir memberikan pandangannya terkait konsep milkul yamin. “milkul yamin disinggung di dalam Al-Quran, yaitu disebut dalam Surat An-Nisa dan Surat Al-Mukminun,” ucapnya seperti dilansir NU Online pada Kamis (5/9).

Kiai Afif menjelaskan bahwa kata milkul yamin berarti kepemilikan budak. Milkul yamin dapat ditemukan pada Surat An-Nisa dan Surat Al-Mukminun dalam merespons situasi perbudakan yang berkembang di zaman itu. Dalam Surat Al-Mukminun berbunyi, “wal ladzina hum li furujihim hafizhun illa ‘ala azwajihim aw ma malakat aymanuhum (mereka yang memelihara farjinya kecuali terhadap istri mereka dan budak mereka). Ini sebagai bentuk larangan berhubungan badan kepada selain istri dan budak.

Sementara Surat An-Nisa ayat 25 yang mengandung kebolehan perkawinan pria merdeka dan perempuan budak dengan syarat ketiadaan kemampuan kawin dengan perempuan merdeka dan kekhawatiran pada perzinaan. Hubungan seksual dari dua ayat tersebut dapat dilakukan dengan jalan milkul yamin, yakni dengan budak perempuan miliknya yang tidak terikat perkawinan dengan pria lain.

Baca: Waketum PBNU: Satu Tekad Bulat Mempertahankan NKRI

Menurut Kiai Afif, pada dasarnya semua manusia dalam Islam adalah merdeka dan mulia. Tetapi struktur sosial tertentu menempatkan mereka ke dalam lingkaran perbudakan sehingga banyak anak terlahir sebagai budak atau mendadak menjadi budak karena peperangan. Oleh karena itu Islam datang dengan semangat penghapusan sistem perbudakan. Islam berupaya keras meruntuhkan struktur perbudakan.

Ketiadaan budak dan perbudakan saat ini, lanjut Kiai Afif, menutup hubungan seksual dengan jalan milkul yamin. Oleh karena itu, ia berharap dan menegaskan agar hubungan seksual dengan jalan milkul yamin (perbudakan) tidak pernah ada lagi. (aw/NU/tribun).

 

DISKUSI: