Rai al-Youm: Soleimani Diteror karena Gagalkan Proyek Besar AS di Timteng

0
403

Teheran,LiputanIslam.com-Harian elektronik Rai al-Youm menulis bahwa ketika mantan Presiden AS Donald Trump berkata,”Hari ini kita telah membunuh musuh nomor satu AS (Jenderal Qassem Soleimani)”, ia tidak sedang mabuk atau gila. Menurut Rai al-Youm, Soleimani dideskripsikan Trump sebagai “musuh nomor satu AS” karena ia adalah orang yang menggagalkan proyek ciptaan dinas inteljen AS di Timteng, yang memakan Suriah dan Irak sebagai korban-korbannya.

“Andai bukan karena Iran, Soleimani, para pahlawan Irak dan Suriah, al-Hashd al-Shaabi, Fatimiyyun (pasukan relawan Afghanistan), Zainabiyyun (pasukan relawan Pakistan), al-Nujaba, Kataib Hizbullah, dan selain mereka, proyek ini niscaya telah menyebar hingga Iran dan negara-negara lain di Kawasan. Bagaimana caranya?”tulis Rai al-Youm.

“Kita semua mendengar ungkapan ‘creative chaos’ yang digunakan mantan Menlu AS Hillary Clinton di masa itu. Sebagian orang tidak menyadari kedalaman ungkapan ini, sebagaimana mereka tidak mencerna kedalaman statemen Trump bahwa musuh nomor satu AS telah dibunuh. Creative chaos adalah sebuah proyek (tradisional) AS yang sebenarnya merupakan proyek alternatif AS di tengah kemerosotannya di Kawasan dan melemahnya hegemoninya atas Timteng. Hal ini terlihat jelas dalam banyak peristiwa di dunia, dan yang paling penting adalah hengkangnya AS dari Irak.”

“Berlanjutnya hegemoni AS atas Kawasan membutuhkan biaya besar dan beragam intervensi, terutama intervensi militer. Namun AS saat itu, juga sekarang, berkutat dengan defisit finansial besar. Sebab itu, AS berpaling kepada proyek megadestruktif, yaitu menciptakan kekacauan di Kawasan, dan instrumennya adalah kemunculan ISIS.”

“Dengan menciptakan ISIS, Washington mengejar sejumlah target:

Pertama, negara-negara yang diteror ISIS akan berlindung kepada AS, memohon bantuan darinya, dan meminta Washington menyediakan apa yang dibutuhkan untuk menghadapi ISIS.

Kedua, meningkatkan permintaan senjata, perangkat, dan logistik AS.

Ketiga, menguras kekuatan negara-negara yang dimasuki ISIS.

Keempat, mengancam negara yang bisa membangkang kepada AS, walau itu adalah sekutunya.”

Rai al-Youm lalu mengajukan pertanyaan apakah target-target AS ini bisa diwujudkan di lapangan dan dunia nyata?

“ISIS muncul di Suriah dan menduduki satu per satu kawasan di negara itu, sampai dikatakan bahwa dua pertiga wilayah Suriah telah dikuasai ISIS. Kemudian ISIS pindah ke Irak, menduduki Mosul, dan mulai menyebar di Irak hingga sampai ke dinding-dinding Baghdad. Namun fatwa jihad Ayatullah Ali Sistani menghentikan laju ISIS dan rakyat Irak mampu melindungi tanah air mereka, mensterilkan kawasan-kawasan Irak dari ISIS, dan secara heroik membebaskan Mosul.”

Menurut Rai al-Youm, ketika media-media AS menyatakan bahwa “ISIS tak bisa dikalahkan dalam tempo kurang dari 20 tahun”, ini menandakan bahwa dinas intelijen AS telah merencanakan supaya Timteng selama 20 tahun diliputi kekacauan. Rentang waktu ini akan dimanfaatkan AS untuk menghimpun kembali kekuatannya dan kembali mengendalikan Kawasan dan dunia.

Meski demikian, lanjut Rai al-Youm, rencana ini dirusak oleh tindakan Jenderal Soleimani dalam menumpas ISIS, menyokong pasukan Irak, al-Hashd al-Shaabi, faksi-faksi Irak dan Suriah, membentuk brigade-brigade militer di Suriah, dan lebih penting dari itu, inisiatif Jenderal Soleimani dalam meyakinkan Moskow untuk terjun langsung di Suriah.

“Kekalahan ISIS telah memupus impian AS untuk menguasai Kawasan melalui kekacauan yang diciptakan kelompok teroris itu. Jenderal Soleimani adalah pemimpin yang telah menggagalkan proyek AS ini,”pungkas Rai al-Youm. (af/fars)

DISKUSI: