Putin Masih Simpan ‘Senjata Rahasia’ untuk Tundukkan Barat

0
1036

Moskow,LiputanIslam.com-Bergabungnya 4 kawasan Luhansk, Donetsk, Kherson, dan Zaporizhzhia telah disetujui dengan suara bulat oleh Dewan Federasi Rusia pada Selasa (4/10). Pemungutan suara serupa juga telah dilakukan Majelis Duma pada hari Senin sebelumnya.

Setelah Dewan Federasi Rusia menyepakati bergabungnya 4 kawasan tersebut, dokumen-dokumen keputusan ini akan dikembalikan ke Kremlin untuk mendapatkan penandatanganan final oleh Vladimir Putin.

Empat kawasan ini bergabung dengan Rusia menyusul rederendum yang diadakan pihak otoritas kawasan-kawasan tersebut beberapa waktu lalu. Para partisipan dalam referendum memberikan suara untuk memisahkan diri dari Ukraina.

Beberapa jam setelah Dewan Federasi Rusia mengumumkan bergabungnya 4 kawasan di atas, Ukraina menyatakan bahwa Presiden Vladimir Zelensky juga telah mengesahkan keputusan Dewan Keamanan Nasional soal kemustahilan berunding dengan Putin.

Tercatat 4 kawasan ini membentuk sekira 20 persen dari luas wilayah Ukraina. Populasinya adalah 21 persen dari total populasi Ukraina. Mayoritas industri Ukraina yang dibangun di masa Uni Soviet juga berada di 4 kawasan tersebut.

Bergabungnya 4 kawasan ini dengan Moskow terjadi di saat Putin disebut-sebut masih punya kartu truf yang belum dimainkannya untuk menghadapi AS dan Eropa. Kartu truf itu adalah penghentian ekspor uranium Rusia yang sudah diperkaya. Jika dihentikan, sejumlah besar pembangkit listrik tenaga nuklir di Barat akan lumpuh.

Rusia merupakan eksportir terbesar uranium yang diperkaya di dunia. Uranium ini digunakan dalam aktivitas stasiun-stasiun pembangkit listrik tenaga nuklir.

Berdasarkan laporan sejumlah NGO seperti Organisasi Sahabat Bumi dari Jerman (BUND), pada 2020 negara-negara anggota Uni Eropa memasok 20,10 persen kebutuhan uraniumnya dari Rusia, sementara 19,10 persen lainnya dipasok dari Kazakhstan, yang nota bene adalah sekutu Rusia.

Bloomberg melaporkan bahwa pada 2020, Rusia memasok 16, 05 persen dari uranium impor untuk AS, dan 23 persen dari uranium yang diperkaya itu digunakan untuk aktivitas pembangkit listrik tenaga nuklir komersil AS.

Media-media Turki memberitakan bahwa para ilmuwan AS merasa khawatir jika Rusia sampai menghentikan ekspor uranium, aktivitas pembangkit listrik tenaga nuklir di AS akan dilanda masalah. Jika itu terjadi, AS akan menghadapi krisis besar listrik.

Menurut Reuters, industri energi nuklir AS akan runtuh dalam rentang waktu sekitar satu setengah tahun jika tidak mendapat sokongan dari Negeri Beruang Merah.

Para ilmuwan mengatakan, banyak stasiun pembangkit listrik di AS dan Uni Eropa dibangun oleh Rusia. Dengan demikian, Rusia pula yang menyediakan segala perangkat yang dibutuhkan. Jika perang Rusia vs Barat masih berlanjut, banyak stasiun pembangkit listrik tenaga nuklir yang harus menghentikan seluruh atau sebagian aktivitas mereka. (af/alalam)

DISKUSI: