Perundingan Rusia-Turki Kandas, Hantu Perang Besar Idlib Kian Menyeringai

0
212

LiputanIslam.com –  Putaran ketiga perundingan delegasi Turki dan delegasi Rusia di Moskow mengenai gejolak militer di Provinsi Idlib, Suriah, kandas. Pasalnya, Rusia bersikukuh pada semua persyaratanya terkait dengan penumpasan kelompok-kelompok bersenjata yang tercantum dalam daftar teroris, pemulihan sepenuhnya kedaulatan Suriah atas Idlib sesuai Perjanjian Sochi, dan penolakan terhadap tuntutan Turki agar tentara Suriah mundur ke posisinya semula sejauh lebih 600 kilometer persegi dari Provinsi Idlib serta beberapa kota dan jalur strategis.

Kekandasan ini berarti bahwa Pasukan Arab Suriah (SAA) akan terus bergerak maju di sekitar kota Idlib dan merebut kembali daerah-daerah yang masih dikuasai kelompok-kelompok bersenjata. Dengan demikian, Turki dihadapkan hanya pada dua opsi;

Pertama, menerima realitas yang ada demi menghindari konfrontasi militer dengan Rusia serta Suriah, dan sekutunya.

Kedua, melanjutkan pengerahan pasukan dan bertempur dengan SAA untuk menghalaunya dari semua kota dan daerah yang telah direbutnya, termasuk jalur cepat M5 yang menghubungkan Aleppo dengan Damaskus.

Ibrahim Kalin, jubir resmi dan penasehat politik Presiden Turki, dalam jumpa pers di Ankara mengakui kegagalan perundingan mengenai Idlib di Moskow, sembari mengatakan bahwa Turki menolak peta, bukan surat, yang diajukan oleh Rusia.

Kalin menjelaskan, “Pengubahan pos-pos pantau militer Turki di Idlib tidak relevan, Turki akan terus melakukan pengerahan dan memperkuat kubu-kubu militer ke kawasan ini demi melindungi Idlib dan warga sipil di sana… Tentara Turki akan bereaksi sekeras mungkin jika personilnya di Idlib mendapat serangan.”

Di pihak lain, Rusia menekankan satu poin yang bisa jadi merupakan faktor kekandasan negosiasi di Moskow sehingga delegasi Turki pulang dengan tangan hampa.

“Keamanan dan stabilitas jangka panjang di Idlib dan bagian-bagian Suriah lainnya hanya dapat diwujudkan berdasarkan prinsip komitmen kepada kedaulatan, kemerdekaan, integritas, dan keutuhan wilayah negara ini,” ungkap Rusia dalam sebuah statemennya.

Poin ini menegaskan kedaulatan Suriah di Idlib dan sekitarnya, sehingga praktis menolak tuntutan utama delegasi Turki berupa penarikan SAA dari Khan Sheikhoun, Maarat al-Nouman, Saraqib, serta semua kota dan daerah lain di Provinsi Idlib, yang berarti penyerahan kembali semua itu kepada kelompok-kelompok bersenjata, terutama Hay’at Tahrir Sham yang tak lain adalah gerombolan teroris Jabhat al-Nusra.

Mungkin karena itulah delegasi Rusia mengajukan kepada delegasi Turki sebuah peta baru untuk pos-pos pantau militer  Turki yang menggantikan 12 titik lama yang sudah terkepung oleh SAA.

Presiden Erdogan memberi tenggat waktu hingga akhir bulan Februari ini kepada SAA agar mundur, dan jika tidak dipenuhi oleh SAA maka pasukan Turki akan menghalaunya dengan cara paksa. Dalam rangka ini Turki mengerahkan lebih dari 80 tank, 150 mobil lapis baja, dan puluhan ribu tentara ke Idlib.

Hanya saja, Turki sudah berulangkali mengancam namun hampir tak pernah menerapkannya, karena Turki tahu persis bahwa pasukannya berhadapan bukan hanya dengan SAA samata, melainkan juga militer Rusia yang selain menguasai zona udara Idlib juga menugaskan personilnya di darat. Turki tampaknya hanya akan bernyali jika mendapat dukungan secara terbuka dari AS dan negara-negara sekutu Turki lain sesama anggota NATO. Namun, kemungkinan demikian kecil di mata banyak pengamat.

Komando militer Rusia dengan alasan apapun tidak akan membiarkan serangan militer Turki mengubah realitas terbaru di lapangan, sementara SAA juga membukakan jalur aman bagi warga sipil untuk mengungsi sementara waktu dari Idlib sehingga tak ada alasan bagi Turki untuk menjadikan mereka sebagai tameng. Berbagai indikasi yang ada menunjukkan bahwa kemungkinan konfrontasi militer lebih besar daripada kemungkinan meredanya ketegangan.

Menlu Turki Mevlut Chavusoglu dalam jumpa pers menyatakan bahwa Presiden Erdogan dan Presiden Putin bisa jadi akan mengadakan pertemuan apabila perundingan delegasi kedua negara di Moskow tidak membuahkan hasil. Namun, Putin tampak tidak tertarik pada pertemuan itu dan sudah pula menyatakan penolakan terhadap tuntutan-tuntutan Turki terkait dengan Idlib. Putin terlihat sudah tak percaya lagi kepada komitmen Turki kepada kesepakatan-kesepakatan yang sudah dicapai, termasuk perjanjian Sochi September 2018.

Parahnya, Putin juga merasa ditelikung oleh Turki ketika Erdogan berkunjung ke Ukraina lalu memekikkan ucapan “Selamat Ukraina” dan menyatakan dukungannya kepada pemulihan kedaulatan Ukraina atas Semenanjung Krimea yang telah dianeksasi oleh Rusia.

Beberapa hari ke depan boleh dikata waktu yang determinan bagi panorama Suriah, terlebih kota Idlib. Segala tindakan gegabah Turki di sana sangat berpotensi mengobarkan konfrontasi berskala regional, dan bahkan internasional, terutama jika AS datang untuk memancing ikan di air keruh, mendorong Turki kepada perang atrisi di Idlib, dan terlebih lagi jika NATO juga ikut bermain. (mm/raialyoum)

DISKUSI: